Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats 20 Tahun Silam Saat Soeharto Mengundurkan Diri Sebagai Presiden RI - Fajar Manado

20 Tahun Silam Saat Soeharto Mengundurkan Diri Sebagai Presiden RI

20 Tahun Silam Saat Soeharto Mengundurkan Diri Sebagai Presiden RI
Presiden Soeharto ketika mengumunkan pengunduran diri setelah 32 tahun lebih berkuasa di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 21 Mei 1988. Foto: Kps/Ist.
Jakarta, Fajarmanado.com — Hari ini, tepat 20 tahun silam, 21 Mei 1998, menjadi salah satu momen penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Sebab, pada Kamis pagi itu, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Presiden Soeharto menyatakan mundur setelah berkuasa selama 32 tahun, terhitung sejak dia mendapat “mandat” Surat Perintah 11 Maret 1966. Pidato pengunduran diri Soeharto dibacakan di Istana Merdeka, sekitar pukul 09.00 WIB.

Dalam pidatonya, Soeharto mengakui bahwa langkah ini dia ambil setelah melihat “perkembangan situasi nasional” saat itu.

Tuntutan rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang, terutama permintaan pergantian kepemimpinan nasional, menjadi alasan utama mundurnya Soeharto.

“Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, kamis 21 Mei 1998,” ujar Soeharto, dilansir dari buku Detik-detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006) yang ditulis Bacharuddin Jusuf Habibie.

Baca Juga :  Siap Gelar Popwil V, Kemenpora Apresiasi Pemprov Sulut

Dengan pengunduran diri ini, maka Soeharto menyerahkan kekuasaan kepresidenan kepada Wakil Presiden BJ Habibie.

“Sesuai dengan Pasal 8 UUD ’45, maka Wakil Presiden Republik Indonesia Prof H BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003,” ucap Soeharto.

Perjuangan mahasiswa

Gerakan reformasi merupakan penyebab utama yang menjatuhkan Soeharto dari kekuasaannya. Aksi demonstrasi ini mulai terjadi sejak Soeharto menyatakan bersedia untuk dipilih kembali sebagai presiden, setelah Golkar memenangkan Pemilu 1997.

Baca Juga :  Diikuti 665 Atlit Enam Provinsi, POP XIV Wilayah V Mulai Bergulir di Manado

Seperti dilansir dari Kompas.com, situasi politik saat itu memang penuh dinamika, terutama setelah terjadinya Peristiwa 27 Juli 1996 di kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Gelombang aksi unjuk rasa ketika itu kian memuncak dan sangat mencekam karena massa semakin anarkis dan menguasai berbagai tempat, termasuk berhasil merangsek masuk gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Pemerintah dinilai menjadi penyebab terjadinya Peristiwa Sabtu Kelabu, setelah mencopot Megawati Soekarnoputri dari jabatan Ketua Umum PDI, hingga menimbulkan dualisme partai.

Popularitas Megawati yang meroket ketika itu, juga statusnya sebagai anak Presiden Soekarno, memang menjadi ancaman bagi kekuasaan. Apalagi, Megawati menjadi pimpinan partai menjelang Pemilu 1997.

Editor : Herly Umbas

 

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan