Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats Kisah Lucu Dibalik Politik Uang Pileg 2019 - Fajar Manado

Kisah Lucu Dibalik Politik Uang Pileg 2019

Kisah Lucu Dibalik Politik Uang Pileg 2019
Ilustrasi. Foto: Istimewa
Manado, Fajarmanado.com — Kampanye tolak politik uang pada Pemilu 2019 terdengar nyaring sampai ke pelosok kelurahan dan desa. Namun praktik money politics masih juga ramai mewarnai pemilihan legislatif (Pileg) 17 April 2019 di Provinsi Sulawesi Utara.

Faktanya, aksi beli suara dikabarkan ramai digencarkan oleh tim sukses (Timses) dari sebagian oknum calon legislatif (Caleg) tertentu, khususnya untuk tingkat DPRD kabupaten kota dan provinsi.

Nilai uang yang ditawarkan kepada masyarakat yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) dikabarkan bervariasi sesuai tingkatan. DPRD kabupaten kota berada pada kisaran Rp.100 ribu hingga Rp.200 ribu. DPRD provinsi sebesar Rp.25 ribu sampai Rp.50 ribu.

Ada beragam kisah yang mewarnai praktik jual beli suara kali ini. Mulai dari cerita adu mulut antar “eksekutor” sampai kisah lucu dari penerima uang, yang nama-nama mereka sengaja disamarkan.

Johny, misalnya, mengaku sangat mengidolakan Marthen untuk Caleg DPRD II. Pasalnya, Marthen sudah sangat berjasa membantu keluarga Johny mengurus surat-surat keluarganya.

“Yah.. Cuma kena Potas jo torang. Sandra kwa ada bawa akang doi,” komentar Johny, Selasa (23/4/2019), sore tadi.

Ia mengaku menerima Rp.300 ribu, uang beli suara yang diistilahkannya dengan sebutan Potas. Karena keluarga Johny ada tiga pemilih.

Berbeda dengan Serly. Diam-diam, ibu rumah tangga ini menerima dua amplop dari dua Timses berbeda, yang masing-masing berisi Rp.100 ribu.

Baca Juga :  Banjir Ucapan Selamat, Saron Minta Tetap Kawal Suara dan Tunggu Hasil Pleno KPU

Saat hendak mencoblos, karena grogi, Serly meminta bantuan Jessy untuk mendampinginya.

Mendengar kabar Serly diantar Jessy, yang dikenal sebagai pendukung Caleg lain, Conny, sang “eksekutor” Caleg lainnya ini menemui Serly.

Ia bertanya kenapa bukan pendukung Calegnya yang mengantarnya saat melakukan pencoblosan. Serly terhenyak. Ia kaget karena bukan Jessy yang mengantarnya sehingga dirinya pun mengadu kepada Jessy.

Bak disambar petir, Jessy yang saat pencoblosan sangat sibuk sebagai saksi salahsatu Parpol, kemudia mendatangi Conny. Ia membantah jika sempat mendampingi Serly sewaktu mencoblos.

Untung saja, Jessy dan Conny tidak berdebat panjang karena Conny berdalih hanya mendengar selentingan kabar dari orang lain.

Namun, tak berselang beberapa saat, diduga karena takut, Serly datang mengembalikan amplop kepada Conny.

Berbeda dengan sikap Meiske. Ibu rumah tangga ini menerima tiga amplop. Selain untuk dia dan suaminya, satu lainnya buat anaknya, Meylin yang tidak tinggal serumah dengan mereka karena sudah menikah.

Keesokan harinya, si “eksekutor” datang meminta kembali satu amplop kepada Meiske karena Meylin ternyata sudah menerima amplop dari rekan sesama “eksekutonya”.

Yah.. So abis tu doi. Apa le kita mo kase pulang, so ndak ada doi,” komentar Meiske memelas. Mendengar jawaban ini, si “eksekutor” sontak terperangah dan hanya bisa pasrah saja.

Lain lagi dengan Maya, gadis pemilih pemula ini. Maya baru saja menerima amplop politik uang pada pagi itu.

Baca Juga :  Dikuasai Partai Penguasa, Inilah 35 Caleg Terpilih DPRD Minahasa

Ketika hendak masuk TPS, Maya mengaku sangat grogi. Ia pun meminta Jenny, tetangganya untuk mendampingi.

Saat berada di bilik suara, Maya terus bertanya kepada Jenny, pendampingnya. Begitu pun saat surat suara DPRD II dibuka dan hendak mencoblos, Maya tetap bertanya mana yang akan dia coblos.

Ketika Jenny iseng menunjuk nomor urut dan nama di partai lain, yang bukan sesuai dengan nama yang ditawarkan Timses pemberi amplop, Maya pun sontak mencoblos.

Selain itu, ada juga kisah adu mulut antar Timses Caleg berbeda. Syane dan Lussy, wanita yang masih punya hubungan keluarga yang dekat ini.

Pasalnya, beberapa hari sebelum pemunggutan suara, Syane sudah melakukan pendataan pendukung Caleg unggulannya.

Ketika hendak memberikan uang politik, beberapa orang yang sudah didatanya menolak menerima. Alasan mereka sama, sudah menerima uang dari Lussy, Timses Caleg dari partai lain.

Syane pun naik pitam. Ketika bersua dengan Lussy, wanita ini membentak. Ia marah karena orang yang didatanya telah digaet Lussy dengan lebih dulu memberi uang.

Tapi Lussy tak diam saja. Ia berdalih tidak tahu jika orang-orang itu telah didata Syane. Apalagi, mereka dengan senang hati menerima uang yang dia berikan.

Penulis: Prokla Mambo

Editor   : Herly Umbas

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan