Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats Astaga..! 10 Bulan Jabat Kumtua, Dannie Sebut Belum Terima Aset Desa Kanonang Lima - Fajar Manado

Astaga..! 10 Bulan Jabat Kumtua, Dannie Sebut Belum Terima Aset Desa Kanonang Lima

Astaga..! 10 Bulan Jabat Kumtua, Dannie Sebut Belum Terima Aset Desa Kanonang Lima
Penampakkan plat deuker yang berada di dua sisi jalan Drs.AJ Sondakh di wilayah Desa Kanonang Lima, Kecamatan Kawangkoan Barat, Minahasa. Foto: Heru
Kawangkoan Barat, Fajarmanado.com — Sinyalemen penyelewengan dana desa di Desa Kanonang Lima, Kecamatan Kawangkoan Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara kini mulai berpolemik.

Menyusul penegasan Decky Lumintang, mantan Hukum Tua (Kumtua), sebutan khas Kepala Desa (Kades) di Minahasa ini, kini giliran Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Steven Lumempouw dan Pengelola BUMDes, Wem Tigau serta pejabat Kumtua Drs. Danny Iroth yang akan bicara.

Ditemui di sela aktivitas membuat pintu bangunan gudang barang BUMDes, Steven dan Wem membenarkan data yang dibeber dalam pemberitaan Fajarmanado.com pada Senin, 10 Juni 2019, berjudul; Diduga Menilep Dana Desa, Mantan Kumtua Ini Sebut Itu Fitnah.

“Malahan, masih ada yang belum diungkap. Seperti kualitas pembangunan drainase dan plat deuker di jalan utama ke Bukit Kasih di depan itu,” ujar mereka senada, Jumat (14/6/2019), siang tadi.

Sesuai Rencana Anggaran Proyek (RAP), konstruksi plat deuker menggunakan besi 12 inci. Namun yang dipakai besi campur yang hanya berukuran 10 dan 8 inci.

“Soal fisik masih banyak lagi kejanggalan, malahan ada yang mubazir. Tapi sudahlah, karena kabarnya pihak inspektorat juga sudah tahu, biarlah itu mereka yang menyelesaikan,” kata Steven.

Soal dana hibah ke BUMDes, Wem Tigau menegaskan bahwa terjadi selisih kurang sebesar total Rp.38 juta selang 2015-2017.

“Ada data rincian yang kami pegang. Ya, sama dengan yang dimuat Fajarmanado,” ujarnya.

Namun demikian, Kumtua Danny tak mau menanggapi soal kualitas dan realisasi program dana desa selang tahun 2015-2018.

Baca Juga :  Desa Tolok Satu Prioritas Sasar Pemberdayaan Potensi Pertanian

“Saya resmi menjabat mulai dilantik pada 14 Agustus 2018. Saat itu saya masih aktif sebagai ASN di Diskominfo Minahasa. Jadi saya tak tahu persis,” komentarnya.

Saat dilantik di Kantor Camat Kawangkoan Barat, menurut dia, tak disertai dengan penyerahan administrasi dan aset.

“Yang ada, hanya serahterima jabatan ditandai penyerahan cap desa. Admministrasi dan aset tidak dilakukan sampai saat ini. Jadi saya tak tahu persis, makanya no comment,” jelas pria yang kini sudah 10 bulan menjabat Kumtua Kanonang Lima ini.

Meski begitu, Danny mengakui bahwa jalannya proses administrasi pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan tetap berjalan normal.

“Begitu pun dengan tahapan proses pencairan dana desa 2019, karena pencairan (dana desa) tahap akhir 2018 tetap dilakukan oleh mantan Kumtua, termasuk ADD,” jelasnya.

Seperti diberitakan, Decky Lumintang, oknum mantan Kades Kanonang Lima, ini dituding telah sengaja ‘menguapkan’ dana desa sebesar puluhan juta.

“Yang dapat dijadikan dugaan kuat adalah dana penyertaan modal kepada BUMDes, ada 38 juta (rupiah) yang tidak diberikan,” kata sumber tokoh masyarakat Desa Kanonang Lima.

Soal tudingan ini, Decky dengan nada kesal menanapik sinyalemen tersebut. “Aduh, belum puas juga mereka mau menjatuhkan saya,” katanya kepada Fajarmanado.com, Senin (10/6/2019).

Berbicara melalui saluran telepon seluler, Decky yang tak berada di rumah saat disambangi pekan lalu, menilai isu ini sengaja digulirkan oleh kelompok lawan politiknya menjelang tahun politik, baik Pemilihan Hukum Tua (Pilhut) maupun Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulut pada tahun depan.

Baca Juga :  Hebat..! Tahun Ini, Desa Touure Dua Punya Gedung Kemasyarakatan Permanen

“Tidak puas juga mereka menjatuhkan saya. Padahal, mereka sudah berhasil melengserkan saya (dari jabatan Kumtua),” ketusnya dengan nada memelas.

Decky menegaskan, dirinya tidak melakukan penyelewengan dana desa sejak dikuncurkan pemerintah tahun 2015. Semua dialokasikan sesuai dengan hasil musyawarah bersama pemerintah, BPD dan tokoh masyarakat yang dituangkan dalam APBDes.

“Inspektorat rutin melakukan pemeriksaan. Hasilnya, tidak ada penyelewengan, semua sesuai dengan RAP,” tandas pria yang diganti oleh Drs. Danny Iroth pada Agustus 2018.

“Buktinya pula, penjabat kumtua yang menggantikan saya bisa mencairkan tahapan akhir dana desa pada tahun 2018,” tambahnya.

Oknum mantan Kumtua Decky dilaporkan tidak menyerahkan dana penyertaan modal pada BUMDes selang 2015-2017 sebesar total Rp.38 juta.

Sesuai APBDes, tahun 2015 yang tertata sebesar Rp.29 juta tapi hanya Rp.13 juta yang diserahkan, 2016 hanya Rp.27 dari Rp.36 juta dan APBDes 2017 sebesar Rp.55 juta namun hanya Rp.42 juta yang direalisasikan.

Dengan demikian, sesuai APBDes selang tiga tahun tersebut, dana penyertaan modal untuk BUMDes tertata sebesar Rp.120 juta tapi cuma Rp.82 juta yang direalisasikan.

“Sisa 38 juta (rupiah) entah dikemanakan atau menguap kemana,” ujar tokoh masyarakat Desa Kanonang Lima.

Selain itu, ada manipulasi material dalam pembangunan plat deuker. Sesuai RAP (Rencana Anggaran Proyek), menggunakan material besi 12 inci tapi yang dipakai hanya 10 inci.

Penulis: Heru

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan