Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats Mengembalikan Nilai Sakral Pesta Pengucapan Syukur - Fajar Manado

Mengembalikan Nilai Sakral Pesta Pengucapan Syukur

Mengembalikan Nilai Sakral Pesta Pengucapan Syukur

Oleh: Phill M. Sulu

PENGUCAPAN, sebuah event sakral tradisi gerejani tahunan di Minahasa, semakin bergeser nilai religiusitasnya sebagai pesta iman, ke pesta pora sekularisme yang sarat roh hedonisme dan konsumerisme.

Event spektakuler tradisi tou Minahasa yang berlangsung sepanjang bulan Juni sampai Agustus setiap tahun, bergantian di semua wilayah kabupaten/kota se Minahasa raya ini, sekarang sudah identik dengan macetnya arus lalulintas dan keluh kesah umat.

Dampaknya bukan lagi kesenangan yg dialami para pengunjung pesta ini, melainkan keluh kesah dan derita akibat terjebak kemacetan arus lalin berjam jam ketika hendak mencapai tujuan.

Ironisnya, kondisi seperti ini terus saja diabaikan para pihak yang kompeten, dalam hal ini pihak pimpinan gereja berbagai denominasi yg ada, serta para eksekutif di masing masing daerah. Malah, terkesan dibiarkan dan dianggap sebuah fenomena kemakmuran dan indikasi kemajuan ekonomi masyarakat yg perlu dibanggakan terutama menunjang kemajuan program kepariwisataan daerah.

Baca Juga :  ROR-RD Rombak Kabinet, 6 Posisi Jabatan Eselon Dua dan 15 Eselon Tiga Berganti

Dampak negatif yang terjadi, terselubung di balik kebanggaan semu segelintir pihak yang diuntungkan oleh kondisi yang amburadul ini.

Sementara itu, keprihatinan sementara pihak, bercampur aduk dengan pesimisme dan skeptimisme pihak lain. Seakan tak ada jalan keluar lagi untuk membereskan kesemrawutan ini, terutama untuk mengembalikan nilai dan makna luhur pesta iman ini ke porsi yang benar.

Tetapi sebenarnya, bukan tak ada way outnya. Yang ada hanya apatisme kalangan yang kompeten, dan ketidak berdayaan masyarakat untuk menghindar dari tradisi yang sudah mengalami anomali ini.

Kalau saja ada good will, tentu manusia tidak kurang kearifan dan kecerdasan mengatasi problem serumit apapun, terlebih jika mengandalkan khikmat dari Tuhan sesuai keyakinan yg dimiliki.

Pihak gereja utamanya, terutama denominasi yang paling besar dan dominan wilayah pelayanannya di kawasan Minahasa Raya, sebenarnya cukup simpel menyiasati atau merekayasa agar event pengucapan syukur ini boleh dikembalikan ke penyelangaraan yang tertib dan lancar, terutama mencapai makna sejatinya.

Baca Juga :  Berbekal Prestasi, ROR-RD Uji Dokter Maya Jadi Kadis Kesehatan

Sebagai contoh, misalnya, GMIM yg memiliki 125 wilayah pelayanan dengan 974 jemaat (statistik 2018). Bisa saja menetapkan, penyelenggaraan pengucapan setiap minggu di kurang lebih 10 wilayah atau sekitar 80 jemaat yang tersebar di daerah Minahasa raya.

Dengan demikian selama bulan Juni – Agustus, di mana terdapat kurang lebih 12-13 minggu, acara pengucapan itu dapat terselenggara seluruhnya di semua wilayah dan jemaat, dengan tertib dan pasti tanpa kemacetan lalin, karena penyelengaraan tersebar luas, tidak serentak dan terpusat di satu tujuan seperti yang berlangsung selama ini. Semoga.

#Penulis adalah Wartawan Senior dan Penulis Buku

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan