Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats Demi Bendungan Kuwil, 47 Waruga Direlokasi Dengan Cara Ini - Fajar Manado

Demi Bendungan Kuwil, 47 Waruga Direlokasi Dengan Cara Ini

Demi Bendungan Kuwil, 47 Waruga Direlokasi Dengan Cara Ini
Kondisi terkini pembanguan Bendungan Kuwil Kawangkoan. Foto: Dokumentasi Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR
Manado, Fajarmanado.com — Proses pembangunan Bendungan Kuwil, Minahasa Utara (Minut) belum optimal. Proses relokasi 47 waruga, situs budaya Minahasa ini, jadi salahsatu pengganjal.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) pun kembali memfasilitasi pertemuan penanggung jawab proyek, Balai Wilayah Sungai Sulut dengan para stakeholder dan tokoh budaya dan organisasi adat.

Rapat koordinasi (Rakor) dipimpin Asisten 1, Bidang Pemerintahan dan Kesra Drs.Edison Humiang MSi di Ruang WOC Kantor Gubernur Sulut, Senin (30/7/2018).

Rakor melibatkan Kasubdit Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Kebudayaan Kemendikbud Widiaty, Kadis Kebudayaan Provinsi Sulut Ferry Sangian, Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi I, Kepala Arkeolog Manado, Kepala Pelestarian Nilai Budaya Manado, kepala Cagar Budaya Gorontalo, Ormas Brigade Manguni Indonesia (BMI) para Hukum Tua, masyarakat, tokoh adat.

Baca Juga :  Matangkan BP-GNRM dan PKN 2018, Inilah Deretan Kerja Nyata di Sulut

Seperti diketahui, 47 waruga, makam tua berusia ratusan tahun ini terdampak pembangunan Bendungan/Waduk Kuwil di Desa Kawangkoan dan Desa Kuwil, Minut.

Balai Wilayah Sungai Sulut sebagai Satuan Kerja Pelaksana Pembangunan telah sepakat menyiapkan lahan untuk tempat relokasi Waruga yang terdampak pembangunan bendungan.

Sejak dimulainya pembangunan Bendungan pada tahun 2016 Pemprov Sulut telah mengadakan mediasi dengan pembentukan tim 9 (Makasiou) yang ditetapkan oleh tokoh masyarakat/adat Minahasa Raya.

Pembentukan tim Makasiou Rapat tersebut dilaksanakan di Kantor Hukum Tua desa Kawangkoan dan disepakati relokasi 47 buah waruga yang terdampak dilakukan dengan cara adat sesuai permintaan organisasi adat yg hadir waktu itu.

Namun, pada prakteknya, cara pembongkaran yang dilakukan pelaksana relokasi dinilai tak sesuai dengan kesepakatan sehingga mengundang reaksi protes dari komunitas pemerhati situs budaya Minahasa.

Baca Juga :  Deputi Presiden Monitoring Integrasi OSS di Sulut, Humiang Sebut Si Obet

Untuk itulah, Pemprov Sulut kembali mengadakan pertemuan guna menegaskan kembali aspirasi dari masyarakat sekitar supaya pembongkaran dan pemindahan situs-situs budaya Minahasa itu tetap mengindahkan kearifan lokal dan prinsip kehati-hatian mengingat kondisi arsitektur Waruga yang begitu rapuh karena usia.

“Sekarang semua sudah terang dan jelas. Pemprov Sulut bersama dengan stakeholders terkait mari kita bekerja sama dalam proses relokasi cagar budaya Waruga ini dan mengawal pembangunan Bendungan  sampai selesai,” tandas Humiang.

Mantan Sekkot Bitung itu waruga-waruga yang direlokasi harus ditata rapi dengan mempertahankan keasliannya agar memiliki daya tarik sebagai objek wisata budaya.

“Bila tempat tersebut menjadi potensi objek wisata tentu ikut memajukan perekonomian masyarakat setempat dan daerah Sulawesi Utara,” ujar Humiang.

Penulis: Herly Umbas

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan