Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats

Dengan Bambu Runcing Warga Masata Lakukan Perlawanan

Dengan Bambu Runcing Warga Masata Lakukan Perlawanan

Bitung, Fajarmanado.com – Pengosongan dan pembongkaran bangunan yang berada di lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kelurahan Tanjung Merah Kecamatan Matuari oleh Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) Kota Bitung, Kamis (9/11), berbuah ricuh. Dengan menggunakan Bambu Rncing warga Manembo-nembo, Sagerat dan Tanjung Merah (Masata) yang menempati lahan tersebut memberikan perlawanan ketika rumah mereka akan dibongkar.

Tak terhindarkan lagi, bentrokan antara masyarakat Masata dan SP3 akhirnya pecah di lahan eks HGU PT. Ranomuut yang diplot untuk KEK. Keluhan bahkan cacian terhadap Pemkot Bitung keluar dari mulut warga. Warga menilai Pamkot lebih memperhatikan Yaki untuk dilindungi daripada masyarakat. Akibat bentrokan tersebut, ada beberap orang menjadi korban, baik dari petugas SatPol PP maupun warga Masata yang terkena lemparan batu dibagian pelipis kiri.

“Saat bentrokan saya terjatuh dan ditikam dengan bambu runcing dibagian punggung dan lengan oleh sejumlah warga. Tapi syukur tidak mengakibatkan luka yang serius karena saya pakai baju pelindung,” ujar Reky Rombot anggota SatPol PP Kota Bitung.

Frangky Sukur warga Masata yang terkena lemparan batu dibagian pelipis sebelah kiri mengatakan bahwa dia tidak tahu pasti siapa yang melempar batu. “Batu yang kena di pelipis bagian kiri berasal dari SatPol PP,” kata Frangky dengan bersimbah darah.

Berkat kesigapan dari Polres Bitung yang dipimpin Kapolres AKBP Philemon Ginting, SIK, MH, bentrokan tersebut bisa diamankan. Dibantu anggota TNI, Polres mampu melakukan pendekatan persuasif untuk meredakan emosi warga yang menuntut ganti rugi atas pembongkaran bangunan mereka. Setelah warga tenang, petugas SatPol PP dengan menggunakan alat berat meratakan bangunan yang dianggap liar berdiri di lokasi KEK seluas 92,6 ha.

Sementara itu, Kasat Pol PP Pemkot Bitung Adri Supit meminta warga untuk segera meninggalkan lahan KEK. Jika ada yang keberatan disilahkan untuk berkomunikasi. Kalau meminta ganti rugi silahkan hubungi Pak Walikota Bitung.

Seperti diketahui, pengosongan lokasi yang akan digunakan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus di Kota Bitung, sudah dua kali dilakukan oleh Pemerintah Kota Bitung. Pertama dilakukan pada bulan Februari 2016. Sebanyak kurang lebih 600 bangunan di kosongkan, dan Pemkot menyiapkan tempat di Rumah Susun. Tapi karena tidak nyaman, akhirnya warga Masata kembali lagi ke lokasi KEK. Penertiban atau pengosongan kedua dilakukan pada hari Rabu tanggal 8 November 2017, terhadap 48 rumah permanen dan semi permanen. (Jones Mamitoho)

 

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan