Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats

Difasilitasi PIKI, Seminar Nasional Bakal Dihelat di Benteng Moraya

Difasilitasi PIKI, Seminar Nasional Bakal Dihelat di Benteng Moraya
Meidy Yafeth Tinangon
Tondano, Fajarmanado.com – Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) bakal mengelar seminar nasional di kompleks Benteng Moraya Tondano pada Sabtu, (11/11/2017).

Seminar tersebut akan membahas soal nilai kebangsaan dan sejarah kebudayaan lokal Minahasa, dirangkaikan dengan pentas seni budaya Minahasa.

Ketua Panitia Seminar Meidy Yafet Tinangon mengatakan, seminar nasional tersebut juga akan membahas tentang upaya hegemoni bangsa asing terhadap wilayah Nusantara yang memicu berbagai persoalan bagi masyarakat ketika itu sehingga akhirnya memantik berbagai bentuk perlawanan rakyat.

“Anak-anak bumi pertiwi yang tertindas, terusik dan berupaya melepaskan diri dari belenggu derita kala  itu. Pengalaman historis itu juga dialami masyarakat Minahasa yang mendiami jazirah utara Selebes. Rakyat Minahasa yang tidak ingin dicurangi, diperlakukan semena-mena, memilih untuk angkat kepal,” ujarnya kepada Fajarmanado.com di Tondano, Kamis (09/11/2017), siang tadi.

Gerakan perlawanan Minahasa waktu itu, lanjutnya, bergelora dalam perisitiwa heroik yang dikenal dengan ‘Perang Tondano’ selang rentang waktu tahun 1661-1809.

Perlawanan rakyat Minahasa ini, tak sertamerta menyurutkan ambisi penjajah untuk menguasai semua yang berada di tanah Minahasa, baik kekayaan yang terkandung di dalamnya maupun rakyat Minahasa. Namun semangat perjuangan rakyat tak pernah padam. Laki-laki, perempuan, orang dewasa dan anak-anak, terlibat dalam arak-arakan perjuangan itu.

Tangis dan air mata, melayangnya jiwa para waraney (ksatria), mewarnai kisah itu. Namun, melawan sampai titik darah penghabisan adalah pilihan terbaik para leluhur Minahasa ketimbang memberi tanah dan anak-cucunya bagi penjajah.

Perjuangan dan pengorbanan dari peristiwa ‘Perang Tondano’ mempunyai nilai yang tak terhingga. Terutama untuk direfleksikan bagi pembangunan Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara dan Negara Indonesia tercinta. “Nilai perjuangan dan pengorbanan tersebut dapat dijadikan senjata untuk menangkal berbagai gempuran di era (post) modern saat ini,” papar aktivis yang dikenal sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Minahasa ini.

Tinangon mengatakan, bangsa dan Negara Indonesia hingga kini terus dirong-rong oleh berbagai kepentingan luar, kuasa asing, dan macam-macam ideologi. Ancaman itu bisa meruntuhkan bangsa ini kapan saja.

“Namun, gerak melawan dengan bergandengan tangan dari seluruh elemen bangsa, baik masyarakat maupun pemerintah, kita yakini bersama dapat menangkal bahaya itu,” tandasnya didamping iJanri Rumambi dan Jerry Wuisang.

Nilai-nilai sejarah-budaya lokal masing-masing daerah, lanjut dia, bisa menjadi pilar penting untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Salah satunya, nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa Perang Tondano.

Menurut Tinangon, berdasarkan pemikiran di atas maka PIKI merasa penting untuk memahami dengan baik dan mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan dalam Perang Tondano. Untuk itulah, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PIKI Minahasa bersama organisasi sosial ‘Wangunta Waya’ Tondano dan Komunitas Pawowasan Toudano, sepakat menggelar seminar nasional mengenai nilai kebangsaan dan sejarah kebudayaan lokal Minahasa, dirangkaikan dengan pentas seni budaya Minahasa.

“Maksud dari seminar ini untuk dapat mengangkat nilai-nilai budaya dalam satu bingkai kebangsaan, sekaligus untuk  menggali dan mengangkat nilai-nilai sejarah besar perjuangan rakyat Minahasa melawan imprialisme dalam peristiwa Perang Tondano tahun 1661-1809,” ungkapnya.

Sementara tujuan seminar ini, papar Tinangon, tak lain pun untuk memperkuat 4 Pilar Bangsa melalui nilai-nilai budaya lokal khususnya nilai Budaya Minahasa.

“Juga mengangkat nilai-nilai sejarah besar perjuangan rakyat Minahasa melawan imprialisme dalam peristiwa Perang Tondano 1661-1809 secara nasional, yang nantinya akan menjadi bahan masukan kepada pemerintah untuk dapat melestarikan dan mengembangkan situs sejarah Nasional,” jelasnya.

Ia mengharapkan seminar nasional ini dapat merekomendasikan sejarah perjuangan rakyat  Minahasa melawan kaum imperialisme melalui Perang Tondano diterapkan dalam Kurikulum Nasional, khususnya mata Pelajaran Sejarah yang bisa menjadi bahan referensi bagi lembaga pendidikan maupun akademisi di bidang ilmu sejarah.

“Dalam seminar ini akan menampilkan pembicara Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Dr Hilmar Farid, sejarahwan Dr Ivan kaunang, Drs Fendy parengkuan dan Pdt Dr Richard AD Siwu,” pungkas Tinangon.

Penulis : Fiser Wakulu

Editor     : Herly Umbas

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan