Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats

Hampir 17 Jam Padam, Warga Amurang Sorot PLN

Hampir 17 Jam Padam, Warga Amurang Sorot PLN
Imbas mati lampu berkepanjangan, siswa yang belajar harus menggunakan lilin. Sayangnya, siswa diatas akan mengikuti ujian naik kelas. Tetapi, PLN tetap ‘rampok’ konsumen dengan cara mematikan aliran listrik. (Foto: Andries)
Amurang, Fajarmanado.com – PT PLN (Persero) Manado kembali disorot. Kendati telah menjadikan wilayah Kota Amurang sebagai tempat mangkal kapal pembangkit listrik sewaan dari Turki, namun ibu kota Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) ini belum juga bebas dari pemadaman listrik. Bahkan, mencapai hampir 17 jam pada Minggu (04/06/2017), kemarin.

“Mungkin ini adalah sejarah baru PLN mematikan aliran listrik terlama dan terpanjang di Kota Amurang,” ujar Jelly Mongkareng, warga Desa Kilometer Tiga, Kecamatan Amurang kepada Fajarmanado.com, Senin (05/06/2017), pagi tadi.

Jelly mengatakan, listrik di sebagian kecamatannya padam mulai pukul 00.01 Wita sampai pukul 18.35 Wita pada hari beribadah umat Kristiani, Minggu, kemarin. “Berarti hampir selama 17 jam konsumen listrik PLN tidak mendapat penerangan,” katanya.

Lebih kecewa lagi, katanya, saat ibadah di gereja hanya bisa dibantu  dengan motor genset. Begitu pun umat Muslim yang menghadapi sahur dan buka puasa, tidak didukung dengan penerangan lampu PLN.

Ia menilai pelayanan PLN sudah sangat keterlaluan. Bisa dikatogorikan merampok hak konsumen. “Ini sejarah baru di Amurang. Kalau sebelumnya pemadaman aliran listrik hanya sekitar 8 hingga 9 jam, kali ini hampir mencapai 17 jam. Waktu itu pun sebelum ada Kapal pembangkit listrik asal Turki yang mangkal di pantai di Amurang.

“Inilah yang aneh. Kapal sewaan dari Turki itu  sudah sekitar satu tahun lebih dikoneksikan dengan PLTU Amurang, tetapi justru tidak mengatasi masalah pemadaan listrik di Amurang, tetapi malah hanya semakin menggila jadinya,” katanya.

Banyak warga yang mengkonfirmasi persoalan pemadaman saat itu kepada pihak PLN. Alasan yang diberikan adalah sama, ada perbaikan jaringan. “Masakan perbaikan jaringan butuh waktu hampir 17 jam, ini tidak masuk akal sehat lagi,” ketusnya.

Ia juga menilai, pemadaman listrik berkepanjangan itu tidak hanya berdampak mengganggu ibadah umat Kristen dan Islam, namun persiapan anak-anak sekolah menghadapi ujian kenaikan kelas mulai hari ini.

“Anak saya mencak-mencak tidak ada lampu untuk belajar pada kemarin malam. Makanya, biar susah-susah terpaksa saya meminjam genset kepada saudara yang di Tanahwangko untuk persiapan. Eh, ternyata lampu sudah menyala menjelang malam,” ujar Johan, warga Amurang lainnya.

Keluhan juga disampaikan Hanny Aluy, warga yang sama. Ia mengaku, akibat mati lampu berkepanjangan,dirinya dan keluarga harus memasak nasi dengan kayu bakar.

“Biasanya menggunakan ricecooker tapi kali ini terpaksa kembali ke kayu baka,” ungkapnya, sambil mengharapkan PLN untuk memperhatikan nasib mereka.

Ia juga mengharapkan, manajemen PLN harus memberikan pelayanan yang baik bagi konsumen, jangan terkesan merampok  hak konsumen.

“Akibat mati lampu seperti ini banyak kerugian yang kami konsumen alami. Kulkas bisa saja rusak, apakahg PLN sudah siap ganti rugi,” katanya sambil bertanya. “Kalau begini terus, kami bisa saja mengadu kepada lembaga perlindungan konsumen untuk menuntut ganti rugi,” tambahnya.

Sementaraitu, Manager PLN Rayon Amurang, Giovanny K Tutuhatunewa belum berhasil dikonfirmasi. “Maaf, bapak lagi turun ke lokasi gangguan. Bapak juga ikut bersama tim melakukan perbaikan jaringan rusak. Di mana, maaf, kami tak tahu lokasinya sekarang,” ungkap security yang minta namanya tak disebutkan. Berkali-kali hendak dihubungi, nomor seluler Tutuhatunewa tidak aktif.

Penulis : Andries Pattyranie

Editor    : Herly Umbas

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan