Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats

Koffo, Kain Tenun Kerajaan Sangihe Talaud yang Hampir Punah

Koffo, Kain Tenun Kerajaan Sangihe Talaud yang Hampir Punah
Inilah wujud motif kain tenun Koffo, yang dikembangkan masyarakat Sangihe Talaud sejak tahun 1519.
Manado, Fajarmanado.com – Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) ternyata menyimpan ragam budaya. Tak hanya musik dan tari-tarian, kain khas daerah pun sudah ada sejak tahun 1519. Itulah kain tenun Koffo.

Pasti banyak yang tak tahu persis ciri khas kain tenun Koffo dibanding motif kain khas Nyiur Melambai, semisal, batik Pinawetengan dan batik Bentenan, yang kini sudah dikenal luas.

Kain tenun Koffo ternyata sudah dikembangkan sejak tahun 1519 oleh putra-putri Raja di Sangihe Talaud yang sarangsen maka kahiwu. Kain Koffo dibuat dari bahan baku serat pohon pisang Abaka, yang oleh orang Sangihe Talaud dikenal dengan nama hote/rote atau Pisang Manila bagi orang Manado dan Kofi Sangi untuk minahasa.

Kekayaan budaya kain Koffo ini dapat ditemukan di museum Nasional Jakarta, museum Textile Jakarta, museum Kebudayaan Provinsi Sulut, bahkan di Museum Nasional Swiss.

Ragam hiasan kain tenun Koffo dibentuk menurut contoh anyaman dengan menggunakan teknik tenun pewarna alami dari desa-desa di daerah yang berbatasan dengan negara Filipina ini. Motif dekoratifnya dibuat berdasarkan bentuk serta simbol tradisional.

Tenunan kain Koffo dikenal dipakai oleh orang Sangihe Talaud tempoe doeloe,  baik laki-laki dan perempuan. Motifnya mirip damask kembang berwarna tunggal. Di atas salana barinya, celana yang panjangnya sampai ketumit, laki-laki memakai baju terusan pajang lurus  semacam baju toro yang disebut laku manandu. Semakin panjang dan mengurai di tanah, maka pakaiannya pun dianggap kian bergengsi.

Pakaian itu dipadu dengan penutup kepala berupa paporong atau kain Koffo dengan lajur hias tenun kecil, dengan melipat lipat ikat kepala sehingga terlihat anggun dan berwibawa.

Begitu anggun dan berwibawa ketika mengenakan Kain Koffo, tak heran, kain khas daerah ini digunakan penduduk Sangihe Talaud sehari-hari dan sempat diperdagangkan di daerah sekitar.

Selama berabad-abad digunakan masyarakat setempat, kain tenun Koffo Sangihe Talaud, praktis berhenti diproduksi  pada tahun 1970 seiring munculnya kapas dan aktivitas perdagangan textil dari luar negeri yang begitu besar.

Cindy Wowor, SE MM, pendiri COFO yang juga putri daerah  Kawanua, ketika menghadiri seminar kain daerah Koffo di Museum Textile Jakarta tahun 2016 mengaku prihatin. Karena berdasarkan hasil penelitian Steven Sumolang S.Sos, MSn, kain asal Sangihe Talaud ini telah punah.

Cindy pun terdorong dan terpanggil untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya bangsa, khususnya kain tenun Koffo. Untuk itu, pada Maret 2017 silam, Cindy berkunjung dan melakukan survey di Talaud untuk menggali lebih dalam asal muasal kain Koffo.

Difasilitasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Talaud, Cindy bertatap muka dan berdiskusi melalui seminar dengan kelompok-kelompok masyarat desa.

“Berdasarkan hasil seminar dan survey lapangan di Kabupaten Kepulauan Talaud saya langsung melakukan audience dengan Bapak Gubernur Sulawesi Utara atas punahnya kain Koffo. Hasilnya, saya mendapat lampu hijau untuk melakukan revitalisasi kain Koffo,” ujar Cindy.

Atas motivasi Gubernur Olly Dondokambey SE dan berbagai pihak, Cindy berhasil mendirikan COFO April 2017. COFO ini untuk  pengembangan dan pelastarian kain tenun Koffo sebagai salah satu nilai budaya bangsa dari Provinsi Sulawesi Utara yang sempat punah.

“Produksi kain Koffo ini tetap menggunakan bahan kapas dipadu dengan bahan lainnya dan tetap mempertahankan ragam hias asli Koffo, selain modifikasi baru yang dikembangkan sebagaimana aslinya pada masa lalu,” jelasnya.

Setelah mematangkan produksi kain Koffo, Cindy berencana memberikan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat Talaud. “Ke depan COFO akan melakukan pelatihan-pelatihan penenunan kepada masyarakat di Talaud. Rencananya setiap kecamatan ada kelompok tenun Koffo sehingga dapat mendukung tingkat produltivitas serta kualitas kain khas ini,” tambah Cindy Wowor.

Sumber : Humas Pemprov Sulut

Editor     : Herly Umbas

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan