Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats Majelis Rakyat Papua Belajar Kerukunan Beragama di Sulut - Fajar Manado

Majelis Rakyat Papua Belajar Kerukunan Beragama di Sulut

Majelis Rakyat Papua Belajar Kerukunan Beragama di Sulut
Kepala Bappeda Sulut Dr Ir Ricky S. Toemandoek, MM saat berdialog dengan Pokja Agama Majelis Rakyat Papua (MRP) yang dipimpin Yoel Luiz Mulait di Ruang WOC Kantor Gubernur, Jalan 17 Agustus Manado, Selasa (9/10/2018) siang tadi
Manado, Fajarmanado.com — Kerukunan beragama sekitar 2,6 juta penduduk di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dikenal terus terjaga kondusif. Tak heran Tim Kelompok Kerja Agama Majelis Rakyat Papua datang belajar soal kerukunan di provinsi paling utama Pulau Sulawesi ini.

Rombongan Kelompok Kerja (Pokja) Agama Majelis Rakyat Papua (MRP) yang dipimpin Yoel Luiz Mulait itu diterima dan berdialog dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut, diwakili Kepala Bappeda Dr Ir Ricky S. Toemandoek, MM di Ruang WOC Kantor Gubernur, Selasa (9/10/2018) siang tadi.

Membacakan sambutan Gubernur Olly Dondokambey SE, Toemandoek menegaskan sikap dan komitmen Pemprov Sulut menjadikan stabilitas daerah, semangat persatuan serta sinergitas kerja dengan berbagai stakeholders pembangunan bangsa.

“Termasuk di dalamnya Majelis Rakyat Papua sebagai poin penting dalam implementasi urusan pemerintahan, pembangunan dan sosial kemasyarakatan serta kunci keberhasilan pembangunan daerah,” katanya.

Baca Juga :  Hebat..! Libatkan Peserta Terbanyak, Sulut Juara POPWIL V 2018

Oleh karenanya, lanjut dia, Gubernur Olly berharap melalui momentum kunker itu dapat meningkatkan sinergitas kerja sekaligus saling berbagi masukan positif.

Pada kesempatan itu Olly menerangkan aspek administrasi pemerintahan dan kemasyarakatan Sulut yang memiliki 15 Daerah Otonom, yang terdiri dari 11 Kabupaten dan 4 Kota.

Dengan jumlah penduduk berkisar 2,6 Juta jiwa, namun masyarakat Sulut hidup berdampingan rukun dan damai. Padahal, sangat majemuk, baik dari sisi etnis, religi, budaya dan adat istiadat.

Menurut Olly, realitas keberagaman ini disyukuri sebagai anugerah, sehingga masyarakat dapat hidup dalam suasana persaudaraan, rukun dan damai.

Dikatakan, falsafah “Si Tou Timou Tumou Tou” yang berarti “Manusia hidup untuk menghidupi Manusia lainnya”, telah membentuk masyarakat yang senantiasa saling menghargai dan menghormati.

“Sehingga benih persatuan dan kesatuan tertanam dan bertumbuh subur, serta semakin memperkuat stabilitas daerah menjadi lebih aman dan kondusif,” ujarnya.

Baca Juga :  Bertemu Moeldoko, Syerly Sompotan: Kesejahteraan Petani Jadi Misi Utama HKTI Sulut

Prilaku hidup masyarakat positif ini, katanya, telah menjadikan roda pemerintahan dan pembangunan di Sulut berjalan dinamis sehingga menjadi kebanggaan.

“Tetapi juga sebagai tantangan untuk terus berupaya memaksimalkan pembangunan menuju tercapainya visi Sulut yang berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam budaya serta menjadikan Sulut sebagai salah satu pintu gerbang di Kawasan Timur Indonesia,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Tim Pokja Agama MRP Yoel Luiz Mulait mengapresiasi perhatian dari Pemprov Sulut sekaligus menjelaskan tujuan kunker tersebut.

“Kami berterimakasih karena sudah diterima dengan baik di Sulawesi Utara. Kunjungan MRP ini adalah untuk mempelajari kerukunan di Sulut. Di Papua hanya ada FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) tetapi di sini selain FKUB juga ada BKSUA (Badan Kerjasama Antar Umat Beragama),” ucap Yoel.

Penulis: Herly Umbas

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan