Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats

Pasca Marawi Direbut ISIS, FKDM Sulut Perketat Pengawasan di Perbatasan

Pasca Marawi Direbut ISIS, FKDM Sulut Perketat Pengawasan di Perbatasan
Para tentara Filipina yang bertempur di Kota Marawi melawan kelompok Maute, sayap ISIS di Filipina. Foto/REUTERS/Romeo Ranoco
Manado, Fajarmanado.com – Jatuhnya Marawi City, salah satu kota di Filipina di tangan ISIS, harus diantisipasi dengan sikap siaga oleh Indonesia.

Kelompok Islamic State Of Iraq & Sham (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah dikabarkan akan membangun basis di Asia Tenggara, tepatnya di wilayah Marawi, Perairan Sulu, Filipina Selatan. Pertempuran pun berkecamuk di wilayah itu sejak Selasa (23/05/2017)

Kepala Divisi Intelijen Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (Kadiv Intel FKDM) Propinsi Sulawesi Utara (Sulut), Adv. E.K. Tindangen, SH, dalam rapat koordinasi FKDM di Manado pada Rabu (24/05/2017) telah mengingatkan kepada para Ketua FKDM Kabupaten/Kota, terutama daerah perbatasan dan pesisir pantai untuk memperkuat jajajarannya melakukan deteksi dini terhadap potensi paham separatis dan radikalis itu masuk ke daerah Nyiur Melambai.

“Elemen masyarakat harus waspada dengan peristiwa di Filipina. Perlu di ingat, jarak Mindanao yang hanya 5 jam lewat laut dan 10 menit lewat udara ke kabupaten terdekat, yakni Talaud dan Sangihe, harus mendapat perhatian khusus pemerintah Indonesia dan juga Propinsi Sulawesi Utara,” tegas Tindangen ke Fajarmanado, Sabtu (27/05/2017) siang tadi.

Ia mengatakan, untuk menjaga NKRI tidak bisa hanya bergantung ke pihak TNI dan Polri yang menjaga perbatasan.

“Masyarakat juga harus berperan serta melakukan deteksi dini terhadap situasi dan keberadaan orang-orang baru yang hadir disekitar kita,” pesan Tindangen yang juga Ketua DPD Ikatan Advokat Indonesia (DPD IKADIN) Sulut ini.

Tindangen juga mengingatkan peran FKDM di daerah perbatasan harus lebih di aktifkan.

“Pemerintah propinsi Sulut juga harus mengaktifkan elemen FKDM di Kabupaten/Kota yang berbatasan langsung dengan Mindanao. Satgas Intel FKDM di propinsi dan Kabupaten/Kota yang berbatasan harus lebih di aktifkan untuk melakukan deteksi dini,” imbaunya.

Unsur FKDM diaktifkan untuk mendukung tugas TNI dan Polri di wilayah perbatasan hingga di pulau-pulau terpencil, yang berpotensi menjadi akses ISIS ke Indonesia, katanya.

Bahkan, Tindangen juga mengingatkan, pengawasan dan kewaspadaan terhadap pergerakan ISIS tak hanya dilakukan di Talaud dan Sangihe, tapi hingga ke kota Manado dan sekitarnya.

Pasca Marawi Direbut ISIS, FKDM Sulut Perketat Pengawasan di Perbatasan

Suasana Rapat Koordinasi FKDM se Sulawesi Utara yang dipimpin oleh Ketua FKDM Sulut. Foto: Ist

Kembali Tindangen menegaskan, kerukunan umat beragama dan stabilitas keamanan di Sulut harus tetap terjaga.

“Menjaga Keamanan bukan hanya tugas TNI dan Polri, tapi semua masyarakat harus berperan,” tegas Tindangen.

“Sekali lagi saya mengingatkan, FKDM khususnya satgas Intelijen harus berperan aktif,” sambungnya.

Tak hanya kejadian di Filipina, Tindangen juga berharap pihak Badan Kesbangpol Propinsi dan Kabupaten/Kota harus benar-benar melakukan verifikasi terhadap keberadaan ormas/LSM yang ada di Sulut.

“Terutama diperhatikan paham dan dasar organisasi. Jika tidak berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan tidak terdaftar di Kesbangpol, toling ditinjau kembali keberadaannya,” tegas Tindangen

Waspada bukan berarti kita mencurigai orang-orang disekitar kita, tapi lebih mengenal aktifitas mereka yang ada di lingkungan terdekat kita, tambahnya.

Untuk tindakan hukum lebih lanjut, silahkan melakukan koordinasi dengan aparat keamanan terdekat, jangan main hakim sendiri, kunci Tindangen.

Informasi ISIS merebut kota Marawi di Filipina Selatan setelah media lokal Filipina memberitakan baku tembak terjadi ketika polisi dan tentara bergerak untuk melaksanakan perintah penahanan seorang pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.

Kelompok Maute yang berafiliasi dengan ISIS kemudian menyerbu Kota Marawi sebagai bentuk respons atas rencana penahanan tersebut.

Pada Selasa (23/05) malam, Presiden Rodrigo Duterte pun memberlakukan darurat militer di Mindanao, Filipina Selatan, menyusul baku tembak antara tentara Filipina dan kelompok bersenjata di Kota Marawi.

(mon)

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan