Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats

Tua-Tua GMIM Usul Solusi Perdamaian Gerejawi Mengatasi Krisis UKIT

Tua-Tua GMIM Usul Solusi Perdamaian Gerejawi Mengatasi Krisis UKIT
Syamas Am dr Bert A Supit
Tomohon – Berhubung  dengan konflik yang sudah mengarah kepada keadaan yang hampir tidak dapat terkontrol lagi karena sikap yang konfrontatif bahkan destruktif yang diperlihatkan oleh ketiga belah pihak dalam UKIT GMIM yang sudah menjurus kepada malapetaka bagi kehidupan UKIT, maka Kelompok 16 Tua-Tua GMIM sekali lagi mengemukakan SIKAP PERDAMAIAN GEREJAWI. Sikap ini sudah pernah diamanatkan oleh Sidang Majelis Sinode Umum GMIM tahun 2010 di Tondano.

Syamas Am dr Bert Adriaan Supit yang mewakili kelompok Tua-Tua GMIM, kepada Fajarmanado.com baru-baru ini dalam releasenya mengemukakan, Rekonsiliasi Gerejawi yang Kelompok 16 Tua-Tua GMIM usulkan ini merupakan suatu langkah yang bertitik tolak kepada Hakekat Dasar dan Panggilan Gereja Yesus Kristus untuk mengatasi suatu Konflik Gereja (GMIM) yang sudah tertuang dalam Tata Gereja GMIM.

Menurut dr Supit, hal itu tertuang dalam: ‘Peraturan Penggembalaan, Penilikan dan Disiplin Gereji Bab I-III (Matius 5:13-16)’; yakni Kerendahan Hati, Pengakuan Dosa, Pertobatan dan Perdamaian yang harus dilakukan oleh semua pihak yang bertikai dalam GMIM. “Yang harus kita semua selamatkan adalah GMIM bersama UKIT dengan lebih dari 3000 mahasiswanya yang sedang didukung oleh orang tua mereka yang tidak berdosa.”

Langkah Perdamaian tersebut, menurut  Tua-Tua GMIM, adalah suatu langkah ’win-win solution’ dimana semua pihak tidak akan dirugikan maupun dikorbankan, bahkan semua pihak akan diikutsertakan untuk pengembangan bersama dan kesejahteraan semua pihak yang menyelenggarakan UKIT. Sudah cukup lama kita bertikai dan sekaranglah saatnya kita bersatu dan berdamai. Jangan sekali kali kita membiarkan orang-orang di luar GMIM akan mempermalukan bahkan menghakimi GMIM sebagai suatu Gereja yang tidak dapat mengatasi masalahnya sendiri.

Supit menambahkan, sambil memperhatikan akan malapetaka UKIT yang dapat saja dicabut izin operasional dalam 6 bulan mendatang bila tidak ditemukan solusi damai; maka momentum tersebut perlu dipergunakan untuk menemukan solusi makro gerejawi yang dapat dipakai sebagai ’payung’ menyelesaikan konflik mikro yang sudah ber-langsung selama 12 tahun lamanya. Itu berarti bahwa kita sekalian harus sepakat dulu untuk mengkaji ulang struktur UKIT dimana Fak. Theologia berada selama 52 tahun lamanya. Kami ajak semua pihak untuk sadar dan belajar dari ’pertentangan2’ yang menyesatkan dari  masa yang sudah berlalu, sambil bersama-sama berpikir secara positif dan kreatif untuk mengisi Paradigma Baru Pendidikan Tinggi GMIM.           

Sekarang ini, sudah 52 tahun dalam kebimbangan status struktur UKIT dengan Fak. Theologia didalamnya, menurut kami harus dihentikan. Untuk mengisi Paradigma Baru Pendidikan Tinggi GMIM, kita harus berani menentukan sikap yang bertitik tolak dari hakekat keunikan Pendidikan Theologia itu sendiri, apa lagi sudah pernah ada dasar hukum GMIM dengan terbitnya SK BPS GMIM No.61/1971 untuk membentuk Pusat Pendidikan Theologia GMIM yang sampai sekarang belum pernah dilaksanakan.

Bertitik tolak kepada SK BPS GMIM No.61 Thn 1971 untuk membentuk sebuah Perg.Tinggi Teologia/Seminari Teologia, maka pemekaran UKIT menjadi DUA Lembaga Perguruan Tinggi GMIM dibawah DUA Yayasan GMIM yang OTONOM, secara struktural merupakan suatu urgensi kebutuhan jaman sekarang dan masa depan dimana Pusat Pendidikan Theologia GMIM yang disebut Perguruan Tinggi Teologia GMIM (PTT GMIM) harus mempunyai kedudukan khusus / otonom dari UKIT yang sekarang, sehingga ia dapat lebih trampil menyesuaikan diri dengan dinamika perobahan konteks dan penyesuaian Kurikulum Teologia, serta hubungan-hubungannya dengan pendidikan Teologia GMIM nonformal lainnya. Pendidikan Tinggi Teologia harus dijadikan ’dapur yang berasap’ atau ’laboratorium’ bagi Extension Courses, Refressing Courses dari para Pendeta di Jemaat, bersama sama dengan PPWG untuk melakukan Pendidikan dan Pembinaan secara kontinu terhadap 20.000 Pelayan Khusus Penatua dan Syamas di Jemaat2 GMIM.  Demikian juga dengan kebutuhan Guru Agama melalui PAK sudah sangat dirasakan oleh sekolah2 yang diolah oleh GMIM.

Fak. Teologia dalam struktur PT Teologia GMIM dibawah naungan sebuah Yayasan yang kami usul bernama ’Yayasan GMIM Ds. RM Luntungan’ yang akan dibentuk untuk menyempurnakan YPTK GMIM yang belum diakui Sinode GMIM. Nama Ds. RM Luntungan untuk sebuah Yayasan GMIM yang membawahi Pendidikan Teologia yang paripurna adalah sangat cocok, berhubung almarhum Ds. RM Luntungan yang pernah memelopori pemikiran Pemekaran Pendidikan Teologia dari UKIT di tahun 1971 sehinggga BPS GMIM menerbitkan SK No.61 pada tanggaql 18 Augustus 1971. Pendidikan Tinggi Teologia GMIM atau Seminari GMIM dapat mengembangkan Program Studinya kedalam Program Studi Kependetaan, Program Studi Gereja dan Masyarakat, Program Studi Managemen Organisasi dan Program Studi Musik (Gereja).

Relasi dengan Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM dan dengan Sinode Am SuluttengGo melalui suatu Yayasan GMIM Ds. RM Luntungan tsb, akan sejajar nanti dengan UKIT yang tetap berada dibawah Yayasan GMIM AZR Wenas yang sudah resmi didirikan GMIM dan yang sudah diakui oleh Pemerintah RI melalui Departemen Hukum & Ham; Dep. Pendidikan Nasional dan Departemen Agama RI.

UKIT dibawah naungan Yayasan GMIM Ds. AZR Wenas sebagai suatu lembaga Perguruan Tinggi GMIM, harus dilayani secara terpisah (Otonom) dan profesional lepas dari beban Perkembangan Pendidikan Teologia; apa lagi bila nanti UKIT akan dilengkapi dengan Fak. Kedokteran, Fak. Keperawatan dan Fak. Ekonomi. Diharapkan bahwa ketiga Fakultas yang baru akan dibentuk tsb. bersama sama dengan Fakultas Non Teologis lainnya yang sudah ada, akan menjadi ’Ujung Tombak’ perkembangan UKIT dikemudian hari.

Sekali lagi, Rasionalisasi UKIT kearah DUA Perguruan Tinggi GMIM dibawah DUA Yayasan GMIM yang otonom harus menjadi ’PAYUNG’ penyelesaian Krisis  UKIT secara BERTAHAP mulai tahun ajaran 2017 – 2018 demi pengembangan UKIT yang akan menguntungkan semua pihak. Tidak ada jalan lain bila GMIM ingin melihat bahwa UKIT dan Perguruan Tinggi Teologia akan bergandengan tangan berkembang maju terus sebagai DUA Perguruan Tinggi GMIM demi Kemuliaan Nama Tuhan Yesus di atas Tanah Minahasa.

Bila strategi Makro tentang Pemekaran UKIT seperti yang diuraikan diatas dapat diterima oleh semua pihak yang bertikai dalam GMIM untuk dijadikan DASAR PIJAKAN mengatasi konflik 12 tahun UKIT  demi Gereja Tuhan Yesus diatas Tanah Minahasa dan pengembangan UKIT dan Perg. Tinggi Teologia GMIM dikemudian hari, maka pelaksanaan bertahap dalam bentuk langkah-langkah konkrit tentang penyatuan sementara administrasi UKIT yang diuraikan dalam LAMPIRAN Pokok-Pokok Pikiran introduksi ini, dapat diimplementasikan secara bertanggung jawab mengawali Strategi Makro, yakni Pemekaran UKIT kedalam dua Perguruan Tinggi GMIM.

“Kami berharap bahwa generasi Pimpinan GMIM sekarang dan kita sekalian dalam Persekutuan GMIM, TIDAK akan dan TIDAK pernah akan menancapkan ’mahkota duri’ diatas ’kepala’ UKIT lalu menyalibkannya; namun sebaliknya kita sekalian akan berusaha keras memberikan NAPAS dan HIDUP baru kepada UKIT yang kita semua cinta”…BANGKITLAH UKIT!!!    TERIMA KASIH!

 

Tomohon, 7 Agustus 2017

Kami Tua-Tua GMIM Yang Sangat Prihatin

       

Sym Am BA Supit

Pnt Am AHJ Purukan (Alm)

Pdt. Em. EJ Posumah

Pdt. Em. HW Tampemawa

Pdt. Em. FJ Kamagi

Pdt. Em. Servius Lumingkewas

Pdt. Em. Eddy Kindagen

Pdt. Em. Alpon Liow

Pdt. Em. W. Ruauw

Pnt. Am Jantje Sambuaga

Pdt. Em. W. Sambuaga Dumais

Pdt. Em. Jan Sumakul

Pdt. Em. JR Pandeirot

Pdt. Em. Ben Pangau

Pnt. Am Jootje Kawengian

Pnt. GL Lengkong

Editor: Jeffry Th. Pay

 

 

 

 

 

 

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan