Histats.com © 2005-2014 Privacy Policy - Terms Of Use - Check/do opt-out - Powered By Histats

Yewangoe Sorot Diskriminasi, Pangdam: Waspada Proxy War

Yewangoe Sorot Diskriminasi, Pangdam: Waspada Proxy War

Manado, Fajarmanado.com – Pernyataan menarik disampaikan oleh Pengarah Unit Kerja Presiden Pdt. A. A. Yewangoe, Kamis (26/10/2017), ketika membawakan materi dalam Seminar Nasional Kebangsaan yang mengangkat tema ‘Merawat Toleransi, Satukan Nusantara’ Kokoh dalam Keimanan, Satu dalam Kebangsaan.

“Stop diskriminasi mayoritas dan minoritas..! Stop diskriminasi pribumi dan non pribumi..!,” tegas Yewangoe yang tampil sebagai pembicara pertama dalam Seminar Nasional Kebangsaan sang digelar Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM), bertempat di Graha Bumi Beringin.

Menurutnya, diskrinasi hanya akan menyebabkan perpecahan sesama anak bangsa. Merusak toleransi di bumi persada dan tindakan ini tidak sesuai dengan Ideologi Pancasila sebagai dasar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mempersatukan semua perbedaan. Semua elemen bangsa harus berkomitmen dan bersinergi untuk menangkal paham radikalisme, terorisme dan intoleransi  yang hanya akan merusak keutuhan  NKRI.

Hal senada juga disampaikan oleh keynote speaker kedua Panglima Daerah Militer XIII Merdeka Mayjen TNI Ganip Warsito. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia (17.000 lebih pulau), garis pantai nomor 2 terpanjang di dunia,  terdiri dari kurang lebih 714 suku dengan 1.100 lebih bahasa lokal, lahir dari perjuangan serta pengorbanan seluruh rakyat Indonesia. Bukan hanya golongan atau suku tertentu, tetapi karena persatuan dan kesatuan wujudkan Indonesia yang merdeka san berdaulat.

“Jika tidak ada Muslim itu bukan Indonesia, jika tidak ada kristen itu bukan Indonesia, jika tidak ada Hindu itu bukan Indonesia, jikat tidak ada Budha itu bukan Indonesia, jika tidak ada kongfutcu itu bukan Indonesia, karena Indonesia diikat oleh Bhineka Tunggal Ika,” jelas Pangdam.

“Saat ini kita harus tetap waspada dari radikalisme, Terorisme serta intoleransi yang mengancam persatuan dan kesatuan. Ada strategi baru dikenal dengan nama ‘Proxy War’ yang berarti meminjam tangan pihak ketiga atau tangan orang lain  untuk menghancurkan atau merusak toleransi, persatuan dan kesatuan di bumi persada dan kita tidak tahu siapa musuh tersebut. Sampai saat ini Indonesia masih utuh karena ada Bhineka Tunggal Ika,” katanya.

Sementara itu Keynote Speaker ketiga, Ketua Majelis Pertimbangan KGPM yang juga anggota Dewan Pers Nasional DR. S. H. Sarundajang, mangatakan bahwa semua elemen bangsa harus memahami betul apa itu paham Radikalisme dan Terorisme. Ibu dari Terorisme adalah Radikalisme. Dan paham ini telah masuk dan mulai merusak sendi-sendi anak bangsa, mereka (kolompok Radikalisme dan Terorisme) ada dimana-mana.

“Ketika kelompok tersebut tidak ada gerakan atau aksi, maka tidak bisa ditangkap oleh penegak hukum, karena Undang-undang tidak mengijinkan. Untuk itu kita harus selalu waspda. Karena dalam aksinya, kelompok ini tidak segan-segan melakukan tindakan kekam dan bengis. Di Philipina ada kelompok Abu Sayap, dimana tingkat kekekaman mereka tujuh kali lebih sadis dari kelompok ISIS,” ujar SHS.

Seminar ini di pandu oleh Ketua Majelis Gembala PP KGPM Gbl. Teddius Batasina, STh.

Penulis :Jones Mamitoho

Subscribe

Terima Kasih...Untuk Mendapatkan Informasi Terbaru Silahkan Subscribe

No Responses

Tinggalkan Balasan