Manado, Fajarmanado.com – Tragedi terbakarnya KM. Barcelona V yang terjadi di perairan Talise, Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, menyisakan banyak misteri yang belum terungkap.
KM. Barcelona yang awalnya menjadi moda transportasi antar pulau, kini berubah menjadi ‘Hantu Laut Pencabut Nyawa’.
Tragedi yang telah merengut nyawa ini, akan selalu menghantui para penumpang, dan akan menyebabkan traumatik psikis seumur hidup bagi para korban.
Mengkaji lebih dalam, kebakaran mulai terjadi dari kamar 33 kapal modern itu, belum terkuak siapa penghuninya saat peristiwa.
Lalu, apa pemicu terjadinya kebakaran tersebut, masih juga menjadi misteri yang belum terekspos ke publik.
Menyikapi asal muasal api, seorang yang punya cukup pengalaman yang tidak mau namanya disebutkan, menduga api bisa disebabkan adanya bahan kimia berbahaya.
“Biasanya saat terjadi kebakaran akan tercium aroma kebakaran, apakah plastik terbakar atau karet, dan lainnya. Melihat asap yang menggumpal kehitaman dan daya sebar api sangat cepat, maka saya bisa menduga penyebab api bisa disebabkan oleh adanya bahan kimia atau sejenisnya,” ungkapnya.
Bahan kimia apa, katanya, perlu ditelusuri jika indikasinya mengarah ke sana.
Selain itu, mencermati kesaksian para korban, manajemen kapal tersebut mengabaikan keselamatan penumpang.
Saat mulai terbakar, tidak ada pengumuman dari pengeras suara dan instruksi penggunaan pelampung atau perahu sekoci saat berlayar maupun saat terjadi kebakaran.
“Saat menagih tiket diumumkan, tapi saat terjadi kebakaran tidak ada pengumuman,” ujar salah seorang korban.
Insiden terjadi secara senyap tanpa instruksi, tanpa pengumuman dari pihak Kapal. Perlu dipertanyakan ada apa ?

Suasana menjadi sangat horor ketika api semakin membesar merambat ke arah anjungan, para penumpang panik karena jumlah Life Jacket (jaket pelampung) sangat sedikit sehingga penumpang lain harus melompat tanpa pelampung.
Dalam sebuah rekaman vidio, seorang penumpang mempertanyakan penggunaan Perahu Sekoci malahan dijawab kasar oleh ABK.
“So dekat pulau kwa sudah Jo pake itu” sergahnya.
Di sini, lanjutnya, terlihat ada unsur kesengajaan yang diduga sengaja diciptakan oleh oleh para ABK. Netizen menuntut agar ABK ini dicari dan diproses hukum.
Ketika kebakaran terjadi, tidak ada upaya pemadaman yang dilakukan oleh awak kapal.
Sebaliknya, awak kapal lebih dulu menyelamatkan diri, meninggalkan penumpang yang terjebak di dalam kapal.
“ABK lebih dulu melompat dan mereka yang lebih dahulu selamat,” ujar para korban.
Terlihat ABK sudah ‘siap’ sejak awal. Apakah ini ada unsur rekayasa ? Hanya pihak APH yang berhak menarik kesimpulan berdasarkan fakta dan data.
Kejanggalan lain, Kapal BAKAMLA terdekat yang seharusnya sigap menanggapi keadaan darurat, lambat bergerak untuk membantu. Namun, nelayan setempat yang sigap dan cepat bergerak untuk membantu evakuasi penumpang.
Dalam vidio para Nelayan, terlihat perahu Nelayan menuju TKP, sedangkan kapal BAKAMLA masih parkir di dermaga dengan alasan klasik prosedural.
Juga perlu dipertanyakan !
Gerak cepat nelayan setempat sangat kontras dengan lambatnya respons dari instansi terkait. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kesiapsiagaan dan efektivitas respons darurat di laut.
Sanksi hukum akan diberikan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab atas tragedi ini.
Penyelidikan lebih lanjut akan dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran dan siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian keselamatan yang terjadi.
Keluarga korban dan penumpang yang selamat berharap agar pihak berwenang dapat mengambil tindakan yang tegas untuk mencegah tragedi serupa terjadi di masa depan.
[Lukhy]

