Manado, Fajarmanado.com – Nasib sial dialami Fatahillah Raihan Ismail asal Kelurahan Wawonasa, Kota Manado. Remaja 17 tahun ini didatangi oknum Kapolsek Singkil Ipda Leonardo Simanjuntak di rumahnya, kemudian dipukuli babak belur pada Minggu,3 Agustus 2025.
Tak pernah terlintas di benaknya bahwa hari itu akan menjadi awal dari pengalaman traumatis yang akan membekas seumur hidupnya.
Sejumlah anggota polisi dari Polsek Singkil datang tanpa banyak bicara. Mereka menuduh Fatahillah sebagai pelaku tawuran antar kampung. Tanpa ruang untuk menjelaskan, ia digelandang ke kantor Polisi.

Di balik seragam resmi dan jabatan sebagai Kapolsek Singkil, oknum Ipda Leonardo Simanjutak, menurut pengakuan korban, menunjukkan sikap yang jauh dari rasa keadilan.
Bukannya menyelidiki secara saksama, sang Kapolsek disebut-sebut langsung menghujani Fatahillah dengan pukulan di kepala dan dada. Tamparan keras mendarat, tendangan menyusul, dan satu kata yang merobek harga diri keluar dari mulut sang aparat: “Monyet!”
Hinaan itu, menurut sang ibu, bukan hanya menyakitkan secara fisik, tetapi menusuk kehormatan sebagai manusia.
“Kalau anak saya dikatakan monyet, berarti saya ibunya juga dianggap monyet,” kata Nurjia, ibu korban, dengan mata yang basah dan suara bergetar.
Ia pun menuntut keadilan. “Saya tak bisa terima. Dia bukan pelaku. Tapi dipukuli seperti binatang.”
Salah Tangkap
Segalanya mulai terang saat sang Kapolsek memperlihatkan foto pelaku sebenarnya. Wajah dalam foto itu jelas berbeda. Bukan Fatahillah. Polisi salah tangkap.
Fakta ini membungkam keyakinan yang semula dibangun atas dugaan. Maka Fatahillah dipulangkan – tanpa permintaan maaf, tanpa rasa kemanusiaan, tanpa pernyataan resmi.
Namun luka tak kembali begitu saja. Wajah lebam, dada nyeri, dan trauma psikis menjadi oleh-oleh pahit dari kantor polisi yang seharusnya menjadi benteng keadilan.

Laporan resmi pun dilayangkan oleh keluarga ke Polda Sulawesi Utara dengan nomor LP/B/515/VIII/2025/SPKT/Polda Sulawesi Utara. Hasil visum memperkuat dugaan kekerasan.
Nurjia kini berharap besar pada Kapolda Sulut. “Sebagai pucuk pimpinan di wilayah Kepolisian ini, saya mohon keadilan. Jangan biarkan aparat yang semena-mena tetap dibiarkan menjabat. Kami minta Kapolsek Singkil dicopot.”
Salah tangkap mungkin bisa disebut kekeliruan. Tapi kekerasan yang menyertainya, apalagi dengan penghinaan rasial, bukan sekadar salah langkah — itu pelanggaran hukum dan kemanusiaan.
[luc]

