Amurang, Fajarmanado.com – Keinginan Tenaga Honda Kategori 2 (TH K2) di Minahasa Selatan, sepertinya belum bisa. Walau diakuinya, TH K2 Minsel sudah terakomodir hingga ke pemerintah pusat. Namun, kabar saat ini pengangkatan TH K2 Minsel sebagai ASN sepertinya belum bisa. Dikarenakan moratorium melalui jalur TH masih tertutup.
‘’Ya, hingga saat ini moratorium tentang pengangkatan ASN belum dicabut. Padahal, pemerintah daerah masih berkeinginan untuk menambah formasi ASN. Bahkan, Gubernur Sulut Olly Dondokambey, SE pun ikut memperjuangkan soal pengangkatan TH K2 di Sulut. Hanya saja, hal diatas belum mendapat jawaban pasti dari pemerintah pusat,’’ujar Kepala Badan Kepegawaian dan Pendidikan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Minsel Drs Ferdinand Roy Tiwa, Sabtu (4/2/2017) melalui telepon selular.
Dikatakan Tiwa, memang pemerintah masih berkeinginan memaksimalkan ASN yang ada. Selain juga mengurangi beban anggaran seperti gaji. Sehingga, memang kita belum dapat membuka penerimaan/pengangkatan ASN baru baik jalur umum maupun TH K2.
‘’Kecuali tenaga teknis seperti kesehatan dan penyuluh pertanian. Itupun pengangkatan melalui pemerintah pusat. Jadi, untuk jalur umum dan TH K2 sepertinya belum bisa. Sekali lagi, Minsel soal penambahan atau pengangkatan ASN hingga saat ini belum bisa,’’jelasnya.
Menurut Tiwa, kesulitan BKPP Minsel dalam rangka pengangkatan ASN baru memang sangat sulit. Maksudnya, karena hingga saat ini belum dicabut moratoriumnya.
Senada dikatakan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Minsel Denny Kaawoan, SE MSi. Dikatakan Kaawoan, soal pengangkatan ASN karena belanja pegawai yang tertata melalui Dana Alokasi Umum (DAU) sudah 60 persen digunakan untuk gaji ASN. Sedangkan, syarat penerimaan minimal presentasi DAU untuk belanja pegawai dibawah 40 persen.
‘’Jadi, tahun 2017 ini penerimaan DAU sekitar Rp 500 miliar. Sedangkan belanja pegawai sudah mencapai Rp 280 miliar. Secara prosentase berarti masih 60 persen sehingga memang belum memenuhi syarat untuk merekrut ASN baru. Meski memang tahun 2017 ini kita kekurangan tenaga guru setelah ditarik guru SMA dan SMK ke Pemprov Sulut,’’katanya.
(andries)
FOTO: Drs Ferdinand Roy Tiwa

