Sonder, Fajarmanado.com – Bencana banjir bandang yang menerjang peternakan ikan air tawar dan babi di Desa Tounelet Kecamatan Sonder, Minahasa, memukul dan mengancam kelangsungan usaha para peternak setempat.
“Sebagian besar peternak di sini memanfaatkan jasa perbankan, makanya kami menjadi bingung untuk membayar ansuran bulanan,” ujar Tommy Tilaan, peternak babi di Desa Tounelet kepada Fajarmanado.com, Senin (20/2).
Tommy beserta puluhan peternak ikan dan babi, ketika ditemui pagi tadi, tengah sibuk membenahi kolam ikan dan kandang yang diterjang banjir bandang pada Minggu (19/2), sore kemarin.
Dibantu oleh anggota keluarga, kerabat dan masyarakat setempat, mereka berkelompok membenahi tempat usaha masing-masing. Tommy sendiri dan beberapa pria lainnya, terus berusaha mengumpul dan mengandangkan babi seusia yang tumbuh bersama sejak kecil.
“Kalau salah pilih, mereka akan berkelahi,” jelas peternak babi berusia sekitar 60 tahun ini. “Jadi harus teliti, jangan sampai ada yang tercampur,” sambung lelaki bercelana pendek ini.

Tommy mengaku mengalami kehilangan sejumlah ekor babi ketika banjir menerjang. “Hitung-hitung, kerugian yang saya alami berkisar 22 juta. Selain ada babi yang hilang, bahan baku dan pakan ternak siap saji, ikut hanyut dibawa banjir,” ujarnya tanpa menyebut berapa ekor yang hilang.
Ia juga menyatakan pasrah dengan dampak yang diakibatkan banjir tersebut. “Yang menjadi persoalan kami peternak sekarang ini, adalah bagaimana membayar ansuran bulanan di bank,” kilahnya.
Tommy mengaku bahwa sebagian besar peternak di wilayahnya telah menggunakan jasa kredit perbankan dalam mendukung pembiayaan pakan dan obat-obatan.
“Dengan adanya musibah ini, tentu mengacaukan perhitungan keuangan kami. Itulah yang menjadi persoalan kami pasca banjir kemarin,” paparnya.
Pada prinsipnya, katanya, ketika menandatangani akad kredit di bank, dia telah memperhitungkan secara matang untuk menyisihkan dana ansuran bulanan di bank. Ada dua sumber dana yang dipersiapkan, yakni menjual anak babi sapihan atau babi potong.
“Dengan musibah ini perhitungan itu tidak bisa lagi kami wujudkan karena cadangan pakan yang telah kami siapkan telah hilang dibawa banjir, belum beberapa ekor yang mati karena hanyut diseret banjir,” katanya memelas.
Karena itulah, Tommy berharap agar pihak bank kreditur dapat memberikan keringanan dengan menangguhkan kewajiban ansuran atau menambah plafon kredit.
“Pemerintah juga kami harapkan bisa membantu untuk meringankan beban kami, minimal memberikan rekomendasi bagi para peternak korban banjir agar mendapat keringanan kredit dari bank,” tutur Tommy.
“Mudah-mudahan pemerintah yang didalamnya ada Hukum tua, Camat, dan para wakil rakyat dari Dapil ini untuk membantu kami,” sambungnya.
(fis)

