Ancaman Bencana Alam Masih Hantui Warga Minahasa
Kondisi korban bencana tanah longsor di Kelurahan Talikuran Kecamatan Kawangkoan Utara saat menerima bantuan dari Pemkab Minahasa Selasa (28/2) malam.

Ancaman Bencana Alam Masih Hantui Warga Minahasa

Tondano, Fajarmanado.com – Ancaman bencana alam masih nyata buat seluruh masyarakat Kabupaten Minahasa.

Terutama yang tinggal di lokasi-lokasi rawan bencana seperti di lereng gunung dan dekat dengan bantaran sungai ataupun tebing. Buktinya, setelah diterjang rentetan bencana (Banjir dan tanah longsor) selang minggu ketiga Bulan Februari, Senin (28/2) kemarin yang adalah akhir bulan, juga akan diperingati sebagai hari kelam di Kelurahan Talikuran Kecamatan Kawangkoan Utara, khususnya bagi 7 kepala keluarga yang kena langsung imbas bencana tanah longsor yang terjadi di wilayah tersebut.

Menurut penuturan Kabag Humas dan Protokol Pemkab Minahasa Moudy Pangerapan MAP, ketika menerima informasi tersebut, Bupati Jantje Wowiling Sajow (JWS) langsung menginstruksikan instansi terkait untuk bertindak. “Begitu terima informasi dari pihak kecamatan, bupati langsung menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Satuan Polisi Pamong Praja serta aparat kelurahan untuk melakukan tindakan antisipasi,” ujar Pangerapan.

Selain itu dikatakan Pangerapan, instansi terkait juga telah memberikan bantuan yang diperlukan buat para korban yang terkena dampak bencana. “Tenda darurat sudah dibuat untuk tempat mengungsi sementara bagi 7 kepala keluarga yang rumahnya terancam,” jelasnya. “Intinya, pemerintah tidak akan tutup mata dengan rakyatnya yang ditimpa kemalangan. Karena ini adalah instruksi bupati terkait penanganan bencana. Terkait bencana tanah longsor di Kelurahan Talikuran, Bupati JWS sudah menginstruksikan kepada BPBD untuk membuat kajian dan segera diusulkan untuk dibenahi,” kunci Pangerapan.

Smentara Kepala Dinas Sosial Royke Kaloh mengatakan kalau laporan yang masuk ke pihaknya bahwa di Kelurahan Talikuran Kecamatan Kawangkoan Utara, telah terjadi longsor besar dengan panjang sekira 70 meter dan kedalaman 50 meter dan tanah yang jatuh sekira 12 meter termasuk dua kandang babi. Kemudian ada satu rumah yang dapurnya sudah tergantung serta satu gudang. Kemudian ada enam rumah yang kondisinya sudah rawan sehingga penghuninya diungsikan. “Untuk sementara korban yang kondisi rumahnya sudah terancam, mengungsi di tenda darurat,” ujar Kaloh.

Berikut nama keluarga yang rumahnya terancam :

1.Rondonuwu-Suoth (4 jiwa)

2.Karundeng-Karaseran (4 jiwa)

3.Rawung-Sengkey (4 jiwa)

4.Tuwo-Rondonuwu (4 jiwa)

5.Rompas-Pangalila (1 jiwa)

6.Pilongo-Goni (4 jiwa)

7.Sengkey-Buyung (1 jiwa)

(fis)