Amurang, Fajarmanado.com – Masih soal kedatangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (18/5) lalu di Kabupaten Minahasa Selatan. Tak hanya ASN yang ada dilingkungan Pemkab Minsel yang mengaku kaget. Bahkan, warga Amurang dan Minsel pun ikut kaget. Namun, keterkejutan diatas menjadi pertanyaan Drs Arie Pasla, mantan birokrat andal di Pemkab Minsel. Pasla pun angkat suara terkait kedatangan anti rasuah di Minsel tersebut.
‘’Sebagai warga Amurang dan Minsel pada umumnya, kaget ya kaget luar biasa. Berbagai media massa (cetak, elektronik dan media social) ramai membicarakan kedatangan KPK di Minsel. Adapun kedatangan KPK di Minsel dalam rangka minta konfirmasi soal dana sertifikasi guru tahun 2014/2015 hingga 2016,’’ujar Pasla, Sabtu (20/5/2017) yang diterima wartawan Fajarmanado.com melalui pesan singkat media social.
Kata Pasla, bahwa dirinya terkejut bukan karena korupsinya atau berapa besar jumlah uang yang hilang. Tetapi, kejadianya yang terus berulang-ulang sejak tahun 2014. Yaitu, dugaan soal dana srtifikasi guru senilai Rp 48 miliar lebih. Korupsi, bagaikan penyakit kronis menggerokoti tubuh Minsel dalam setiap APBD berjalan.
‘’Dugaannya, pertama: APBD sebagai mata rantai dengan APBN. Banyak terjadi korupsi dan gugaan korupsi yang diketahui lebih 50 persen kepala daerah harus bertanggungjawab ke bui/sel. Kedua: Lembaga pengawasan antara lain, BPK, Inspektor Daerah (Irda), bahkan lembaga penegak hokum turut berpartisipasi,’’jelas mantan Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Setdakab Minsel ini.
Ditambahkannya, yang lebih mengejutkannya adalah kekompakan DPRD Minsel yang ternyata sudah lama tahu, tetapi berdiam diri. Hal diatas akhirnya disokong oeh komponen Pilar Keempat Demokrasi di Minsel.
‘’Media massa (cetak, elektronik dan online dan lebih khusus media social) muncul dan bahkan terjadi pro dan kontra atas berita diatas. Benar atau salah, ini adalah puja dan puji kepada Dia, sebab melalui pemberitaan diatas telah menciptakan kebingungan rakyat Minsel. Terakhir, baginya kedatangan KPK di Minsel membuat dirinya terguncang dengan banyaknya tokoh agama melakukan KKR dengan tujuan: Memuja dan minta ampun kepada Tuhan atau menggunakan nama Tuhan untuk mengelabui masyarakat Minsel,’’tanya Pasla yang juga mantan Camat Tareran ini.
Lain lagi dikatakan Oscar Sumampow, warga Amurang diperantauan mengatakan, terima kasih kepada Tuhan atas awal pertama kedatangan KPK di Minsel. ‘’Ini menggambarkan, kinerja ASN di Minsel yang tentu saja bisa bai atau tidak baik. Dan yang paling baik, adalah kerja berdasarkan SOP dan dijalur Tuhan Allah. Melalui anaknya yang tunggal, Yesus Kristus amin,’’pungkas Sumampow.
(andries)

