Harga Selangit, Los Darurat Hambat Relokasi Pedagang
Inilah penampakan 40 tempat berjualan ukuran 3x3 meter dengan tiang-tiang sebagai pembatas, yang ditawarkan CV Inka sebesar Rp10.475.000 per unit kepada pedagang pakaian dan sejenisnya di Pasar Esa Waya Kawangkoan.

Harga Selangit, Los Darurat Hambat Relokasi Pedagang

Kawangkoan, Fajarmanado.com – Program pemanfaatan bangunan modern di Pasar Esa Waya Kawangkoan, Minahasa, belum juga terealisasi dalam sampai akhir pekan ini. Los darurat pihak ke tiga menjadi penghambat program relokasi pedagang karena harga jualnya dinilai selangit.

“Nilai bangunan selangit karena terlalu mahal. Per petaknya ditaksir cuma sekitar 2,5 sampai 3 juta (rupiah) tapi dipatok dengan harga sampai belasan juta,” kata pedagang pakaian di Pasar Esa Waya Kawangkoan kepada Fajarmanado.com, Sabtu (27/05/2017).

Melalui UPT Pasar Esa Waya Kawangkoan, Dinas Perdagangan Minahasa memrogramkan relokasi pedagang Pasar Kawangkoan ke dalam gedung pasar baru efektif berlaku sejak 11 Mei 2017 lalu. Namun, 52 kios dan 168 lapak permanen yang dibangun dengan Rp 6,2 miliar hasil tender proyek Kemendag 2016 itu, tidak betah  ditempati pedagang.

Para pedagang bahan kering, berupa ikan dan bahan hortikultura dan bahan kebutuhan pokok (Bapok) lainnya, tak bertahan lama berjualan di fasilitas bangunan pernamen beralaskan tegel itu. Mereka kebanyakan memilih kembali di tenda-tenda darurat bersama penjual aneka pakaian, sepatu dan aksesoris.

Pantauan Fajarmanado.com dalam dua pekan terakhir, pada pagi hari setiap pasar pada Senin, Kamis dan Sabtu, sebagian besar pedagang memanfaatkan lapak baru mereka. Namun, dengan alasan kurang pengunjung, menjelang siang mereka kembali pindah di tempat penjualan awal meskipun dalam kondisi darurat.

“Kami sudah sempat memberikan ultimatum, tapi sulit kami terapkan karena mereka mengeluh hampir tidak ada pembeli,” ujar Kepala Pasar Kawangkoan, Johly Rori, SE ketika dikonfirmasi kembali, siang tadi.

Satu-satunya solusi yang harus dilakukan, katanya, menertibkan pedagang pakaian, sepatu dan aneka aksesoris yang berjualan di kios-kios darurat di sepanjang jalan lingkar pasar.

“Persoalannya, kami tidak bisa bersikap tegas karena masih banyak pedagang pakaian dan sejenisnya yang belum ada tempat berjualan di dalam kawasan pasar,” ujar Rori. Mereka yang belum kebagian tempat usaha baru tersebut diarahkan menggunakan los yang dibangun pihak ke tiga.

Seperti diketahui, CV Inka mendapat rekomendasi membangun los darurat berisikan 100 tempat berjualan di atas lahan sisa pembongkaran los dan kios lama, sebelum gedung baru dibangun dengan anggaran Kemendag pada medio tahun 2016 silam.

Empat los yang dibangun secara swadaya oleh CV Inka ditawarkan dengan harga Rp.11,6 juta lebih untuk 40 tempat berjualan dan 60 lainnya dipatok masing-masing senilai Rp12,1 juta lebih.

Kadis Perdagangan Minahasa Moudy Lontaan SSos mengaku jika harga tersebut oleh para pedagang dinilai sangat memberatkan. Karena itulah, ia mengungkapkan telah menyampaikan aspirasi pedagang kepada pihak CV Inka.

“Saya sudah berusaha perjuangkan supaya bisa dicicil, tapi pihak perusahaan hanya bisa menurunkan harganya rata-rata sekitar 1 (rupiah) per lokasi berjualan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Lontaan mengaku tidak bisa mengintervensi perusahaan itu lebih jauh. “Persoalannya, mereka mendapat rekomendasi membangun. Harga itu sesuai perhitungan mereka, kami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali bermohon dengan menyampaikan aspirasi pedagang,” kata mantan Camat Kawangkoan ini.

Sementara surat CV Inka tertanggal 17 Mei 2017 yang ditandatangani Direktur Meidy Mailensun merespon surat permohonan peninjauan harga jual dari Dinas Perdagangan Minahasa, menurunkan harga jual ke dua kelompok los tersebut.

Untuk  60 petak berukuran 3×4 meter diturunkan dari harga semula Rp12.154.000 per unit menjadi Rp10.975.000 per unit. Sementara 40 tempat berjualan berukuran 3×3 meter dari Rp11.604.000 menjadi Rp10.475.000 per unit.

(ely)