Tomohon, Fajarmanado.com – Investasi China di Sulut tampaknya akan dilakukan dengan membangun berbagai mega proyek. Selain akan membangun jalur kereta api dari Bitung ke Gorontalo, investasi China ini juga akan membangun bandara baru di Pulau Lembeh, sekaligus juga membangun jembatan antara Kota Bitung dan Pulau Lembeh.
“Kalau ini terlaksana, maka koneksi antar daerah, antar kepulauan, dan antar negara di Indonesia Timur akan berpusat di Bitung dan Sulawesi Utara umumnya,” ujar Laksdya DR Desi Albert Mamahit, Ketua Umum (Chairman) Indonesian Research and Development International (IRDI), Kamis (01/06/2017) dalam dialog “Minahasa di Persimpangan Jalan”, di Perspustakaan AZR Wenas, Tomohon.
Dipandu oleh dr Bert Adriaan Supit sebagai penggagas dialog, Mamahit yang juga komisaris di salah satu BUMN ini mengungkapkan, China memang sedang berambisi menjadi kekuatan ekonomi dunia. “Karena dilihat dari potensi negara ini, dimana penduduknya lebih dari 1 miliar, luas wilayahnya, serta kemampuan ekonominya, China memang akan berperan untuk menjadi penentu ekonomi dunia,” ujar Mamahit.
Khusus mengenai pembangunan bandara baru di Pulau Lembeh dan Jembatan Bitung-Lembeh, menurut Mamahit, rencana itu sudah lama ada di saat pemerintahan provinsi Sulut yang lalu-lalu. Namun tidak jalan, termasuk jalan tol Manado-Bitung yang baru bisa terwujud saat ini, meski sudah lama direncanakan. Mengenai bandara baru, jelasnya, kondisi bandara Sam Ratulangi saat ini tidak bisa diperpanjang lagi. Dan Gubernur Sulut Olly Dondokambey sudah setuju perlu ada bandara baru pengganti bandara Sam Ratulangi. Dan mengenai jembatan Bitung-Pulau Lembeh, akan mempermudah akses ke bandara baru, dimana akan terhubung dari tol Manado-Bitung, serta jalur kereta api Gorontalo-Bitung.
“Dalam pemerintahan Presiden Jokowi saat ini memang memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Dan Presiden mau segera dilaksanakan, dan bukan hanya menjadi rencana-rencana tanpa diwujudkan,” ujar Mamahit.
Dalam pengembangan investasinya di berbagai belahan dunia, tuturnya, Indonesia menjadi salah satu sasaran investasi China. Dan dalam pertemuan dengan para pimpinan negara dan pelaku ekonomi di berbagai negara baru-baru ini di China, sudah ada 60 negara yang setuju dengan gagasan dan kebijakan China untuk berinvestasi di berbagai negara. Dan untuk Indonesia, sesuai arahan Presiden Jokowi, investasi China itu diprioritaskan untuk tiga provinsi, yaitu Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Utara.
“Jadi dari tiga provinsi bagian Utara ini, Sulut sangat diuntungkan sebagai salah satu tujuan investasi China. Di Sulut mereka akan membangun berbagai infrastruktur, dan peluang ini harus dimanfaatkan oleh masyarakat Sulut. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton,” tegas mantan Kepala Bakamla RI ini.
Ia mengungkapkan, dalam penerapan teknologi China memang memiliki skill yang tidak kalah dengan negara-negara maju lainnya. Dan peluang ini harus dimanfaatkan masyarakat Sulut untuk transfer teknologi, sekaligus akan membuka peluang kerja yang cukup banyak. “Sebagai contoh, jemabatan Suramadu, yang menghubungkan antara Surabaya dan Pulau Madura adalah hasil pekerjaan China. Kemudian saat ini juga sedang membangun jalur kereta cepat Jakarta-Bandung, dan masih banyak proyek-proyek besar di Indonesia hasil buatan China,” jelas Mamahit.
Jeffry Th. Pay

