Tondano, Fajarmanado.com – Berulang kali dikritisi, namun tak pernah digubris. Hal ini terkait Bimbingan Teknis (Bimtek) para Hukum Tua (Kumtua) yang dilakukan di luar daerah.
Sekretaris DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Minahasa, Bung Edwin Pratasik SPd, mengatakan, kegiatan Bimtek sangat bisa dilakukan di daerah ini dengan tidak mengurangi nilai dan kualitas dari kegiatan yang disebut-sebut sebagai kegiatan peningkatakan kapasitas Kumtua itu sendiri.
Pratasik mengungkapkan, Bimtek di luar daerah seperti ini telah mendapat perhatian khusus dari menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia Eko Pujo Nugroho.
“Menteri telah meminta supaya kalau bisa, kurangi kegiatan di luar daerah untuk menghemat anggaran. Karena, kegiatan seperti Bimtek, bisa juga dilakukan di daerah setempat dengan menghadirkan narasumber dari luar yang dianggap kompeten,” ujar Pratasik.
Menurutnya, hal tersebut lebih hemat anggaranya dibandingkan dengan peserta yang harus menuju ke daerah asal dari si narasumber. Seperti Kabupaten Minahasa yang didalamnya ada 227 desa. Jika dihitung total anggaran yang dikeluarkan, tentu lebih hemat jika nara sumber yang datang di Minahasa.
“Kami berharap supaya desa itu bijak dalam menata anggaran. Karena Bimtek keluar daerah adalah pemborosan anggaran. Sayang anggaran ratusan juta bahkan mungkin miliar hanya habiskan untuk Bimtek keluar daerah. Bayangkan saja kalau uang tersebut digunakan untuk membangun jalan sentra pertanian di desa, berapa saja panjangnya,” jelasnya.
Sebagai Pemuda Minahasa, Pratasik berharap dan meminta supya pemerintah kabupaten Minahasa arif dan bijak. Kalau ada kegiatan yang sudah tidak sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat, tentu harus disesuaikan.
“Terkait Bimtek ini, kalau hanya berbicara tentang bagaimana memajukan desa serta masyarakat didalamnya, saya kira banyak narasumber dari daerah ini yang bisa menyajikan materi tersebut,” pungkasnya.
Jika memang harus menghadirkan pembicara dari kementerian terkait di pemerintahan pusat, kata dia, tentu akan jauh lebih hemat biaya mendatangkan mereka di daerah, ketimbang memberangkatkan semua 227 kumtua ke Bandung.
“Biaya transportasi saja sudah jauh berbeda. Kan, tidak mungkin yang jadi pembicara sama banyak dengan peserta. Begitu pun dengan biaya akomodasi,” katanya.
Kebijakan Bimtek di luar daerah ini, dikabarkan telah banyak Kumtua yang tidak setuju karena materi yang diterima relatif sama dengan Bimtek tahun-tahun sebelumnya. “Kalau memang harus, cukup Kumtua baru saja yang diprogramkan ikut Bimtek seperti ini. Kalau kami, sudah dua tiga kali ikut, jadi sebenarnya percuma saja ikutserta,” komentar Kumtua yang enggan disebutkan namanya.
Oleh karena itu, lanjutnya, tak heran kebanyakan Kumtua hanya memanfaatkan sebagian besar waktu pesiar di objek-objek wisata sekitar daerah tujuan Bimtek. “Saya tak mau banyak bicara, lihat saja di media sosial sangat ramai dengan postingan aktifitas Kumtua di luar kegiatan Bimtek,” paparnya.
Penulis : Fiser Wakulu
Editor : Herly Umbas

