Tomohon, Fajarmanado.com – Terkait dengan dugaan ijazah palsu yang dikeluarkan UKIT Yayasan Wenas, Meity Ritha Poluakan, STh menggelar Konferensi Pers yang diselenggarakan di ABI (Auditorium Bukit Inspirasi) Kelurahan Kakaskasen, Tomohon Utara, Senin (28/8).
Sebagaimana diketahui Ritha Poluakan telah mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia Ir Joko Widodo melalui Sekretariat Negara terkait dugaan kasus Ijazah Palsu S2 atas nama dirinya dan teman-teman lainnya. Warga kelurahan Rinegetan Kecamatan Tondano Barat Kabupaten Minahasa Provinsi Sulut ini, mengadukan ijazah yang dikeluarkan oleh Universitas Universitas Kristen Indonesia Tomohon UKIT Yayasan AZR Wenas tahun 2016 lalu.
Dalam Konfrensi Pers tersebut, Poluakan yang didampingi oleh tua-tua GMIM dr. Bert A Supit dan Pdt Eki Posumah, mengutarakan asal muasal kasus ijazah palsu yang diterimanya. Dalam surat yang diajukan ke Presiden itu, Poluakan menjelaskan, sebelum kuliah dirinya adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang bekerja sebagai pedagang di pasar.
Karena kerinduan untuk mengembangkan diri di bidang Teologi Kristen, dirinya mengawali kuliah S1 Teologi pada umur 39 tahun di UKIT dan Lulus S1 pada tahun 2014, kemudian langsung melanjutkan kuliah S2 dan mendapat ijazah yang dikeluarkan oleh beberapa petinggi BPMS. “Untuk membiayai kuliah S2 yang cukup mahal saya terpaksa menjual lapak dagangan dengan harapan selepas kuliah dapat segera bekerja sebagai dosen. Namun harapan itu tidak saya rasakan sampai saat ini karenah ijazah yang saya miliki tidak diakui karenah dinilai ilegal,” kata Poluakan.
Hal itupun mendapat tanggapan dari salah satu tua tua GMIM Dr.B.A Supit. Dirinya sangat menyayangkan hal seperti itu terjadi di Universitas Kristen Indonesia Tomohon hingga sudah sampai ke Presiden. Merurutnya kejadian seperti ini memalukan karenah krisis UKIT tidak pernah selesai. “Saya berbicara bukan sebagai siapa siapa melainkan sebagai orang tua yang sangat prihatin dengan kejadian yang terjadi kepada Rhita Poluakan mahasiswa UKIT yang memperjuangkan nasibnya demi keluarganya dan mengeluh sampai ke Presiden lewat surat, dalam hati saya menangis,” ujar Supit.
Dirinya berharap Ketua Yayasan dan Ketua Sinode agar mendengar dan menanggapi masalah ijazah palsu yang dialami Ibu Ritha Poluakan saat ini. “Apakah hal ini terjadi karenah beberapa oknum petinggi BPMS tidak mau merendahkan hati mereka demi kebaikan dan nama baik GMIM dan UKIT,” tukas Supit sambil menggeleng kepala.
Supit menambahkan, sebagai orang tua dan mantan ketua yayasan yang membawahi UKIT, dirinya tidak akan menyerah untuk berupaya mendamaikan berbagai polemik yang terjadi di UKIT dan akan terus mencari kebenaran yang sesungguhnya sampai masalah ini selesai. “Minahasa dibangun oleh orang orang hebat seperti Sam Ratulangi dan Walanda maramis tapi saya heran kenapa masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan pihak Yayasan dan BPMS hingga sudah sampai ke Presiden,” tegasnya.
Penulis : Prokla Mambo
Editor : Jeffry Th. Pay

