Tompaso, Fajarmanado.com — KM Funka Murni telah sepekan tenggelam di sisi timur Pulau Siko, Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara (Malut). Namun keluarga Sonny Rembet, satu-satunya korban hilang masih berharap korban ditemukan.
“Kami berharap, dalam keadaan apapun, hidup atau kemungkinan terburuk, mati, Sonny ditemukan,” komentar Olta Simbar, isteri Sonny Rembet kepada Fajarmanado.com di kediamannya, Desa Tompaso Dua Utara, Kecamatan Tompaso Barat, Minahasa, Sulawesi Utara, Minggu (1/3/2020) malam.
Sebagai umat Kristiani, katanya, dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan atas nasib suaminya. Kalaupun laut yang digariskan Tuhan merengut nyawa suaminya, Olta mengaku pasrah.
“Tapi, sebagai isteri, saya sangat berharap agar jasad suami saya, apabila memang sudah meninggal bisa saya dan keluarga lihat yang terakhir kali untuk kemudian diacarakan untuk dimakamkan sebagaimana layaknya,” ujar wanita beranak satu yang terkesan tegar ini.
Sonny Rembet, pria 58 tahun ini menjadi satu-satunya korban hilang dari 10 penumpang KM Funka Murni di perairan sisi timur Pulau Siko, Halteng, Malut pada Minggu, 23 Februari 2020.
Sonny bersama tiga rekannya, Jelly Tenda, Reymond Laloan dan Ronald Tumewu mengawal 58 karung (bukan 48 karung) cengkih yang dibeli di Pulau Bacan Utara menuju Bitung pada Jumat, 21 Februari 2020 silam.
Selang sekitar 10 jam bertolak dari Kecamatan Hindari, Pulau Bacan kapal layar itu mengalami mati mesin. Upaya perbaikan tak berhasil sehingga kapal yang telah melewati perairan Ternate hendak menyebrang menuju ke arah Batang Dua, terbawa arus ke arah balik.
Angin yang bertiup kencang ke arah utara tak mampu mendorong maju kapal yang layarnya sudah dibentangkan.
Selang sekitar 18 kemudian, kapal sudah berada di laut dangkal sisi timur Pulau Siko, sehingga layar ditutup dan jangkar dilego. Sementara kapal penolong yang telah diminta belum juga muncul.
Di saat tengah menunggu, sekitar pukul 00.10 WIT, tali jangkar putus akibat arus yang kencang dan ombak besar menerpa silih berganti sehingga kapal membentur rep dan dinding pulau yang terjal.
Sontak saja, kapten dan awak kapal berlarian menyelamatkan diri berbekal pelampung. Korban Sonny yang dibangunkan saat tidur langsung lari bergabung dengan kapten dan awal kapal di dek satu, sementara lainnya bertahan di dek dua dan dek tiga.
Ketika kapal yang terombang ambing oleh ombak kembali membentur bebatuan dan dinding pulau, korban melompat dari sisi kanan kapal, menyusul kapten dan dua awak kapal.
Sedangkan penumpang lainnya, melompat kemudian dari sisi kiri kapal sehingga berjatuhan di atas bebatuan di sisi tebing pulau.
“Sampai saat ini belum ada kabar dari masyarakat kami dan masyarakat pulau-pulau sekitar kalau sudah ada yang menemukan bapak Sonny,” kata Faisal, Sekretaris Desa Siko, Kecamatan Kayoa yang kembali dihubungi Fajarmanado.com, malam tadi.
Basarnas Ternate sendiri telah menghentikan pencairannya pascamenarik seluruh personilnya pada Jumat, 27 Februari silam.
“Tapi sampai tadi tetap berkordinasi dengan kami soal perkembangan pencarian bapak Sonny,” ujarnya.
Penulis: Heru

