Tineke Mandang, Guru Besar Asal Sulut Harumkan IPB di Mata Jepang
Prof. Dr. Ir. Tineke Mandang, MS

Tineke Mandang, Guru Besar Asal Sulut Harumkan IPB di Mata Jepang

Bogor, Fajarmanado.com–Prof Dr Ir Tineke Mandang, MS terus menorehkan prestasi gemilang di bidang pendidikan tinggi. Guru Besar asal Sulawesi Utara (Sulut) ini, kali ini mengharumkan Institut Pertanian Bogor (IPB) University.

Bersama Prof. Hanny Wijaya, Prof. Tineke menerima penghargaan dari Negeri Sakura, Jepang.

Duta Besar Jepang untuk Indonesia, YM Masaki Yasushi, memutuskan untuk memberikan Penghargaan Kepala Perwakilan di Luar Negeri untuk Tahun Reiwa ke-6 (Paruh Kedua) kepada dua sosok wanita Guru Besar IPB University, Prof Tineke Mandang dan Prof Hanny Wijaya, demikian dilansir dari situs resmi IPB University, Kamis, 27 Februari 2025.

Penghargaan tersebut diserahkan karena jasa keduanya dalam mempererat hubungan persahabatan dan saling pengertian antara Jepang dan Indonesia selama bertahun-tahun.

Sebagai alumni penerima beasiswa Ministry of Education, Culture, Sports, Science, and Technology (MEXT), Prof Tineke dan Prof Hanny telah menjadi salah satu anggota penentu utama dalam proses seleksi penerima beasiswa di bidang sains dan pertanian selama bertahun-tahun sejak 1990.

Prof Tineke Mandang adalah anak ke empat dari enam bersaudara yang lahir 24 Mei 1955 di Tomohon namun tumbuh dewasa di Kawangkoan, Kabupaten Minahasa.

Ayahnya, Alm. Paul Mandang merupakan kepala sekolah SMP Nasional Kawangkoan sampai dekade tahun 1970-an.

Tak heran, bersama semua saudara kandungnya, termasuk Prof. Dr. Ir. Jeany Mandang, MS, mantan Guru Besar Unsrat Manado ini, Prof. Tineke menempuh pendidikan sekolah lanjutan di SMP dan SMA Nasional Kawangkoan.

Setelah lulus di dua sekolah lanjutan di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) itu, Prof. Tineke melanjutkan kuliah di IPB University.

Prof. Tineke yang kini Wakil Ketua Perhimpunan Alumni dari Jepang (PERSADA), dinilai telah berkontribusi dalam memromosikan asosiasi alumni Jepang.

Pada acara Japan Education Fair yang diselenggarakan oleh Japan Student Services Organization (JASSO) selama bertahun-tahun, Prof Tineke juga menjadi Narasumber dengan berbagi pengalaman untuk pelajar dan mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan studi ke Jepang.

“Tentu ada kebanggaan tersendiri karena terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan,” komentar Prof. Tineke.

“Kami selama ini hanya ingin berperan dalam program beasiswa pemerintah Jepang agar program dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak orang Indonesia yang dapat mengenyam pendidikan di salah satu negara maju khususnya bidang pertanian,” sambung pakar teknik pertanian ini.

Namun, dengan diberikannya penghargaan tersebut, lanjutnya, ada rasa tanggung jawab yang harus diemban untuk menjaga dan meningkatkan persahabatan dan kerja sama khususnya di bidang pendidikan dan pertanian antara Indonesia dan negeri Matahari Terbit itu.

“Di tingkat institusi, kami juga pernah menjadi pengurus atau pengelola kerja sama IPB University – Jepang,” ungkapnya.

Salah satu kerja sama Dikti/IPB dengan JICA Jepang adalah untuk grant pembangunan Gedung Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta), fasilitas, expert assignments, dan international training untuk 12 negara Afrika.

Selain itu juga kerja sama Dikti/IPB – JSPS untuk penelitian dengan berbagai universitas di Jepang.

“Keterlibatan dalam kerja sama-kerja sama tersebut atas kepercayaan Prof Kamaruddin Abdullah dan Prof Edi Guhardja (alm). Untuk beliau- beliau, terima kasih,” ungkap Prof Tineke.

Tineke Mandang (kiri) dan Hanny Wijaya (kanan). Foto: Humas IPB/Ist.

Sementara itu, Prof Hanny Wijaya juga telah ikut berkontribusi dalam mempromosikan kerja sama dalam bidang pendidikan antara pemerintah Jepang dan Indonesia termasuk dengan membangun hubungan antara Kedutaan Besar Jepang dengan pemerintah Indonesia.

Sebagai Ketua Perhimpunan Alumni Universitas Hokkaido di Indonesia, Prof Hanny berperan dalam mempromosikan pertukaran antar universitas ketika IPB University mengundang Rektor Universitas Hokkaido sebagai tamu pembicara.

“Saya sangat tidak menduga hal ini. Apa yang saya lakukan untuk almamater tempat saya belajar adalah bentuk rasa terima kasih yang tulus. Saya merasa sudah sepantasnya memberikan kembali, karena telah mendapat kesempatan belajar di Jepang dengan beasiswa penuh dari pemerintah Jepang. Berkat kesempatan itu, saya bisa berkiprah seperti saat ini,” ungkapnya.

Prof Hanny berharap bahwa apa dilakukannya dapat bermanfaat bagi Indonesia, khususnya IPB University yang membekalinya dengan kepercayaan, dasar pendidikan nilai-nilai kerja sama simbiosis mutualis, dan yang memberikan banyak kesempatan untuk dapat berkarya sepenuh hati.

“Bangga itu pasti, tetapi saya tahu pasti semua pencapaian ini bukan kemampuan saya semata, begitu banyak tangan terulur. Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak terutama para ‘senpai’, para mentor, terutama Prof Kamaruddin Abdullah dan alm Prof Edi Guharja. Semoga penghargaan ini berkah bagi IPB University beserta civitas akademiknya. Yoroshiku onegai itashimasu,” pungkasnya.

[**heru]