Manado, Fajarmanado.com — Seorang siswa bernama Gracella Pinontoan jatuh sakit dan muntah-muntah diduga efek buruk dari Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berbau busuk dan tidak layak untuk dikonsumsi, yang disalurkan oleh Mitra BGN Titik Dapur Bengkol, vendor pihak ketiga Yayasan Cahaya Langowan Nusantara, milik Meyvi Lumangkun, Jumat (16/5/2025)
Skandal MBG berbau busuk menghebohkan jagad maya, bersumber dari salah satu akun yang dibagikan oleh Rosna Radjaman mencapai 1,3 ribu dibagikan netizen dan terus bertambah.
Sontak, mendapat kabar yang viral di medsos tersebut, Pemprov Sulut dan Pemkot Manado melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Ketahanan Pangan, BPOM dan Kodim, langsung turun lapangan melakukan investigasi ke titik Dapur BGN Bengkol, Mapanget.
Imbas dari skandal tersebut didapati seorang siswa bernama Gracella Pinontoan, kelas 4 SDN Pandu, jatuh sakit dan muntah – muntah diduga efek dari mengkonsumsi MBG yang berbau busuk kemarin, sehingga Jumat 16 Mei lalu, siswa tersebut tidak bisa ke sekolah, dan akhirnya mendapat kunjungan dari pihak sekolah dengan membawa dokter sebagai tenaga medis untuk pengobatan
Terkait hal itu, maka wartawan media ini mengkonfirmasi ke pihak sekolah korban, SDN Pandu.
“Iya memang ada anak yang sakit muntah-muntah, tapi kami sudah membawa dokter ke rumah siswa dan mengobatinya. Sudah aman, sudah teratasi” ungkap seorang guru.
Ironisnya, pihak BGN tidak turun berkunjung ke rumah siswa yang sakit tapi hanya pihak sekolah dan dokter tenaga medis.
Ditanya alasan BGN tidak turun, pihak sekolah menyampaikan bahwa belum sempat menyampaikan ke BGN.
“Karena kemarin kami sangat sibuk dengan berbagai kunjungan jadi tidak sempat menyampaikan ke BGN,” selq guru lainnya.
Padahal kunjungan tersebut terkait dengan skandal ini, tapi herannya pihak Sekolah sudah mengatasi sendiri tanpa memberi laporan ke BGN padahal itu adalah tanggungjawab BGN dan Yayasan CLN.
Pihak sekolah harusnya bersinergi dengan BGN secara cepat menanggapi skandal ini dan pihak BGN juga harusnya lebih proaktif melakukan pengawasan, bukankah pasca skandal tersebut pihak Pemprov dan Pemkot langsung sidak ke TKP ? Trus mengapa masih terjadi kelalaian pengawasan dan tidak ada sinergitas antara BGN dan Sekolah ? Mengapa saling menyembunyikan informasi ? ada apa ?
Dalam siaran langsung oleh sebuah media, diklarifikasi oleh oknum Kepala Sekolah dan pihak Yayasan bahwa belum ada siswa yang sempat menyantap makanan yang basi tersebut.
Akan tetapi, ketika rekaman vidio tersebut diamati, terlihat dengan jelas jika makanan yang tersisa kurang lebih 20 paket, sebagian besar sudah dikonsumsi.
Ketika ditanyakan, sejumlah siswa senada mengakui bahwa mereka sudah sempat terlanjur melahap nasi dan lauk itu. Lain habis, lainnya lagi tidak dimakan habis.
Berdasarkan fakta di lapangan terbukti ada siswa yang sakit muntah-muntah diduga keracunan makanan yang tidak layak konsumsi
Akhirnya, keteledoran dapur SPPG Bengkol menyebabkan siswa sebagai generasi masa depan bangsa terdampak. Bahkan, ikut merugikan negara yang membiayai dengan dana milyaran rupiah setiap vendor atau mitra BGN.
Saat dikonfirmasi ke pihak BGN dan Yayasan CLN melalui panggilan telpon dan pesan WhatsApp tidak mendapatkan tanggapan sampai berita ini ditayangkan. Padahal, di beberapa media lain, oknum Ketua Yayasan CLN merespon namun hanya sebagai permohonan maaf dan langka mitigasi yang dilakukan bersama BGN.
Pemberian makanan gratis yang ternyata busuk atau tidak higienis melanggar UU Kesehatan dan UU terkait higienis makanan.
Makanan yang sudah busuk atau tidak aman dikonsumsi dapat menyebabkan berbagai penyakit, sehingga tindakan memberikan makanan seperti itu merupakan pelanggaran terhadap hak-hak masyarakat untuk mendapatkan makanan yang aman dan sehat.
UU Kesehatan (UU No. 36 Tahun 2009) mengatur tentang kesehatan masyarakat secara keseluruhan, termasuk keamanan pangan. Memberikan makanan yang tidak aman atau busuk jelas melanggar prinsip-prinsip kesehatan masyarakat yang dilindungi oleh UU ini.
[lukhy]

